Tampilkan postingan dengan label Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lainnya. Tampilkan semua postingan

14 Desember 2015

Jalan-jalan Bareng Ke Pantai Drini dan Tamansari Jogja

Piknik bersama tetangga make bus rasanya baru kali ini. Kami beramai-ramai naik bus ke Pantai Drini Gunungkidul dan ke pemandian putri keraton. Berangkat pagi-pagi benar, jam 05.30 kami sudah bersiap menuju bus yang sudah ready di depan perumahan.

Mama, mbak, mas dan dik adhan sebetulnya duduk satu deret. Merasa penuh, mas kemudian nyusul papa ke belakang. Lebih longgar karena masih cukup banyak kursi kosong.Di hampir sepanjang perjalanan, kakak tertidur. Lumayan lama karena perjalanan melalui jalur Sukoharjo. Sedangkan mbak Alma seperti biasa, muntah-muntah.

Begitu memasuki pantai, awalnya kelihatan biasa saja namun ketika kami menyusuri bagian yang lain, wow indah sekali. Sayangnya lokasi itu cukup ramai jadi agak ga nyaman buat liburan. Hmmm itu baru hari minggu apalagi liburan akhir semester, pasti akses masuk akan lebih susah dan berdesak-desakan lagi.

Di Pantai, dik Adhan bermain lepas dengan kedua kakaknya. Senang sekali melihat anak-anak bergembira, mainan pasir, terhanyut ombak, berfoto bersama tetangga yang lain. Cuaca pun tidak begitu terik jadi tidak cukup menyengat dibadan.

Selesai dari Pantai Drini, kami menuju ke Jogja. Awalnya ke Malioboro tapi Masya Allah jalanan penuh sesak dan macet. Bus pun diarahkan ke lokasi parkir yang agak jauh. Daripada ke Malioboro, kami menuju ke tempat mandi putri kerajaan melalui kampung cyber yang dikunjungi mark zuckerberg, pemilik facebook itu.

Sayang, akses masuk ke tamansari sudah tutup sehingga tidak bisa leluasa melihat ke dalam. Akhirnya kami menelusuri lorong dan mencapai titik dimana kami menengok dari atas tembok akses kolam tamansari. Hampir maghrib kami menuju bus dan setelah itu kami pulang kembali menuju Solo.

Alhamdulillah sepanjang perjalanan maupun di lokasi, tidak hujan sehingga liburan lumayan menyenangkan.

23 Desember 2012

Yang Kami Inginkan Akhirnya Didapat

Dengan niatan yang kuat akhirnya kami mendapatkan barang yang sungguh sudah kami inginkan cukup lama. Meski harganya lumayan untuk keluarga namun benda itu sangat dibutuhkan. Bagi mama papa, merekam segala polah dan perilaku mas, mbak dan adik penting. Bukan sekedar gambar namun cerita yang tertuang dalam gambar-gambar itulah yang perlu diabadikan. Bukan pula untuk gagagh-gagahan sebab ada berjuta makna dalam gambar itu.

Ya, benda itu adalah camera digital sebagai pengganti kamera kami yang telah rusak sekitar 6 - 7 bulan yang lalu. Meski menghabiskan Rp 400an ribu kamera itu ya sedikitpun tetap dalam kondisi rusak. Otomatis cukup banyak moment yang kami lewatkan begitu saja tanpa ada rekaman. Sangat disayangkan memang namun tak bisa apa-apa.

Mama papa berjuang ekstra keras menabung sedikit demi sedikit agar kamera itu bisa terbeli. Awalnya ketika mencari info harganya mencapai Rp 5,5 juta lebih. Agak merinding juga dan ga tahu akan sampai kapan barang itu terbeli. Alhamdulillah, Allah mendengar apa yang dicita-citakan kami sehingga banyak aktivitas yang dilakukan mama papa. Hal itu berdampak pada apa yang diharapkan otomatis memberi dampak bagus.

Banyak dokumen yang kami miliki dan rutin ditulis oleh papa di blog ini sebagai bagian hidup keluarga kami. Bagian dari yellow house kalau kata mbak Alma meski sekarang sudah bukan kuning lagi. Saat dana terkumpul sedikit demi sedikit, papa cek di toko. Ternyata stoknya memang pas kosong sehingga harus menunggu. Kami pun meninggalkan no telp supaya jika barang datang bisa dikontak. Maklum banyak yang mencari produk itu.

Sebelumnya juga sudah dibaca beberapa literatur kamera apa yang cocok. Pasti ada kelebihan dan kekurangan sehingga kami mencari barang yang menurut teman-teman lumayan bagus serta harganya tidak kelewat mahal. Begitu kami ditelp, segera meluncur ke toko itu untuk memastikan barangnya. Lumayan, saat akan dibayar harga kamera itu tak semahal harga awalnya.

05 Juni 2012

Rumah Kami, Penentram Jiwa

Rumah kami memang sudah berusia cukup tua, apalagi kami tinggal diperumahan. Otomatis bangunan yang ada bukan berkualitas no 1. Meski begitu kami sangat bersyukur menikmati hidup kami yang dilimpahkan beragam kebahagiaan tak terkira. Memang kadang ada masalah tetapi alhamdulillah semua terselesaikan dengan baik.

Kami sempat membangun bagian belakang rumah secara penuh 2 lantai. Waktu itu tahun 2005 dan hanya menghabiskan anggaran Rp 30 juta saja. Padahal lahan itu seluas 4x7 m2 untuk 2 lantai. Saking si kontraktor kelewat menyanggupi, belum tuntas benar pekerjaan eh ditinggal pergi.

Ya sudah mau bagaimana lagi.

Kini 7 tahun berlalu dan kusen serta jendela sudah rontok dimakan rayap. Bahkan pintu kamarpun bercampur antara kayu dan semen. Papa menutup kayu-kayu yang keropos dengan olahan semen. itu yang paling mungkin dan bisa dilakukan.

Pekerjaan mengganti kusen serta tampak muka tidak semudah yang dibayangkan. Debu-debu otomatis memenuhi semua lantai rumah.

Makanya tiap sore setelah pak tukang pulang, kami semua berbenah, bersih-bersih. Alhamdulillah dik Adhan mau mengerti dengan kondisi ini. Kadang mas Afin atau mbak Alma yang menemani. Ya Allah, Berkahilah kami semua dalam kesehatan dan kehidupan agar rumah kami benar-benar menjadi rumah cinta.

Tidak hanya sedap dipandang mata namun nyaman dan betah untuk ditinggali. Kami semua sungguh merasa kerasan betul dirumah itu. Semoga kenyamanan itu kelak akan bertahan sampai kalian anak-anak papa mama menjadi pejabat atau sukses menjalani hidup.

Maknai kedamaian rumah sebagai wujud rumahku surgaku. Jangan lupakan dimana dulu kalian lahir, kalian dibesarkan, kalian belajar dan kemana kalian akan mengunjungi orang tua kalian. Insya Allah papa mamamu tetap akan disini hingga akhir hayat.

11 Maret 2011

Motor-Motor Kami


Memulai kehidupan berkeluarga langkah awal merencanakan keluarga yang bermanfaat bagi sesamanya. Memulai sesuatu dengan perjuangan dan susah payah itu hal lumrah apalagi dengan seadanya. Salah satunya motor sebagai alat transportasi. Pasca menikah tidak memiliki apa-apa. maka dari itu, direncanakanlah membeli motor.

Apa daya dana yang ada sangat pas-pasan sehingga meminta bantuan pakde untuk pengadaan. Meluncurlah ke Cilacap untuk mencari kuda besi dengan uang cuma Rp 800 ribu perak. Tentu harapannya dapat motor lumayan karena kami tak mengerti soal motor. Kenapa ke Cilacap? Karena ada pakde yang lebih tahu.

Dua hari disana dapatlah motor Suzuki Crystal warna hijau tua yang kliatannya seperti hitam. Itu motor pertama yang berhasil digaet tentu dengan bantuan tambahan pakde. Mana cukup tahun 1999 dapat motor dengan uang itu. Dari Cilacap motor ditunggangi menuju Solo. Selama perjalanan hujan deras menemani sehingga jas hujan yang dipakai robek-robek tertiup angin.

Setidaknya 2 tahun motor itu menemani hari-hari dan mas Afin sempat menikmatinya. Bahkan kami sempat membawa motor itu ke Pekalongan. Setelah 2 tahun motor itu kami ganti dengan Honda GL Pro yang keluaran tahun 1992 kalau tak salah. Sayangnya motor itu tak begitu bagus hingga sering mogok kalau hujan.

Tepat jelang mbak Alma lahir, papa terpaksa menuntun motor itu dari tugu lilin (rumah bersalin) hingga dekat perumahan. Karburator kotor dan tak ada bengkel buka karena masih jam 6 pagi. Mama pulang naik becak untuk ambil baju buat persalinan dan baju bagi bayi mbak Alma.

Pasca melahirkan, papa menuju Klaten membawa ari-ari mbak Alma memboncengkan mbah Uti Klaten. Ditengah jalan sempat ditabrak motor baru yang dikendarai anak smp. Tangan papa retak dan untungnya masih bisa mengendarai kembali hingga Solo. Setelah berpikir cukup matang, kami memutuskan ganti motor baru saja yang biayanya bisa lebih murah.

Beli bisa mahal namun perawatannya jauh lebih mudah dan murah. Tahun 2002, diambillah motor Suzuki Shogun yang saat itu sedang booming. Shogun itulah yang menemani selama lebih dari 9 tahun hingga sekarang. Dulu sempat mau diganti tetapi mama nggondeli soalnya sudah banyak sejarahnya.

Kini, motor itu masih setia bersama kami bahkan hingga dik Adhan hadir melengkapi kebahagiaan bersama. Meski cuma 1 motor, anak-anak tidak terlalu menuntut untuk ganti. mereka malah meminta ada motor baru karena sudah tidak muat untuk berlima. Berempat saja kalau pulang sekolah sudah tak muat.

28 Desember 2010

Kalian Bisa!

Sekolah merupakan dasar yang cukup penting untuk bekal masa depan dan setiap manusia di Indonesia akan melewatinya. Mas Afin dan mbak Alma juga melewati masa-masa sekolah dengan cukup antusias. Mereka bergembira ketika masuk sekolah atau kadang ya males-malesan sehingga akhirnya mbolos. Prestasi di sekolah juga lumayan menurut kami, papa mamanya. Hanya saja memang masih angin-anginan yang kadang naik atau turun. Jika masih giat, mereka akan belajar tanpa disuruh-suruh bahkan mulai pulang sekolah hingga akan terlelap ditengah malam.

Atau malah sebaliknya, cuma bentar buka buku pelajaran, baca dan sudah. Entah masuk atau tidak tapi kami mempercayai kalian telah belajar. Metode untuk tidak banyak menghafal namun memahami soal, cukup dapat ditransfer dari kami untuk mas dan mbak. Karena menghafal meski juga penting namun sering tidak berhasil untuk memahami esensi pelajaran. Kecuali untuk pelajaran sejarah. Mereka berdua sama-sama tertarik bila belajar tentang pemahaman. Kadang sampai papa mama susah menjawabnya.

Eksplorasi atas pengetahuan tidak dibatasi hanya pelajaran sekolah namun membaca kehidupan sehari-hari cukup penting. Kami memang memasukkan acara "tolong", "andai aku menjadi", "mrico" hingga "upin ipin" sebagai mata pelajaran sampingan. Kenapa? karena berbagai acara tersebut mampu menyampaikan pesan yang cukup jelas dan mudah ditangkap oleh otak, pikiran bahkan hati mereka. Memberi pelajaran jiwa bagi mas dan mbak alma juga tidak boleh dikesampingkan agar tak tumbuh jadi manusia egois.

Pelajaran sekolah sendiri pada masa sekarang tidak semudah saat kami kecil. Mengajari bahkan memahamkan makna atas berbagai pelajaran menjadi misi yang tetap harus disampaikan supaya esensi dari pengertian dan pengetahuan yang diterima tidak kosong. Meski awalnya cukup tertatih-tatih, alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa menyesuaikan. Tolok ukur untuk penerimaan pelajaran ya dengan hasil tes. Alhamdulillah selama bersekolah hingga sekarang ini masih bisa mencapai standar.

Yang juga ikut didorong adalah bagaimana mempertahankannya. Tidak mudah disalip atau bahkan harus faham atas ilmu yang disampaikan oleh guru mereka. Selama ini rata-rata nilai semester bisa mencapai 80 keatas meski sesekali mas Afin menyentuh angka rata-rata 70. Artinya dia bisa menangkap pelajaran. Dia dihimpit oleh teman-temannya yang les pelajaran diluar maupun pada guru mereka. Tak jarang keluar kata-kata yang menjelaskan bahwa temannya banyak yang mendapat kunci jawaban dari sang guru.

Kami harus mensupportnya dengan tidak mencontek apalagi ikut mendapat kunci jawaban tersebut. Supaya mereka memiliki rasa percaya diri dan keyakinan bahwa pengetahuan mereka telah cukup untuk mengerjakan soal. Yang agak mengecewakan hasil test mata pelajaran matematika mas Afin untuk test semesteran I kelas lima. Nilai dibawah 50 telah memukul telak kami semua dan juga mas Afin. Setelah kami cek, memang ada beberapa soal yang harusnya benar namun disalahkan.

Beruntung ulangan harian maupun tengah semester I mampu mendongkrak nilai di raport. Ini harus dibenahi agar pada semester kedua hasilnya bisa lebih optimal. Mas Afin mendapat nilai total 1909 atau rata-rata 86,77 untuk raport kelas V semester I. Dengan nilai itu, mas Afin berada di posisi 11. Hasil matematikanya lumayan drop sehingga sulit mengatrol pelajaran lainnya. Sedangkan total nilai agama bila dibandingkan dengan teman yang lain berada di posisi kedua dan hanya terpaut satu point dengan temannya yang mendapat jumlah terbanyak pada mata pelajaran agama.

Rata-rata 86,77 lebih rendah dibandingkan hasil test tengah semester namun hampir sama dengan ujian semester II kelas IV. Dengan melihat posisi ranking 11, berarti teman-teman mas Afin mendapat nilai jauh lebih baik. Tapi tak apa, papa mama masih yakin kalau mas Afin akan memperbaiki itu semua pada semester kedua. Ini menjadi modal penting pada persiapan psikis mas Afin di tahun depan yakni kelas VI. Karena pada saat kelas VI, mas akan menempuh ujian nasional dengan standar nilai 60. Tidak mudah namun kami yakin mas Afin bisa melewatinya. Mas Afin harus tetap yakin.

Sementara itu, hasil semesteran mbak Alma untuk kelas IV semester I nilai totalnya mencapai 1680 point atau rata-rata nilainya 84 (terpaut 0,9 dari hasil semester II kelas III). Dengan jumlah segitu, mbak Alma menempati posisi ke 10 dikelasnya. Dibandingkan ujian tengah semester kemarin hasilnya lebih bagus 2 poin. Tetapi justru rankingnya lebih rendah. Ini juga menandakan bahwa teman-teman mbak alma belajar jauh lebih keras sehingga meski rata-ratanya hampir sama namun posisi peringkatnya turun dari posisi 7 ke posisi 10.

Maka dari itu semua anakku, belajarlah yang rajin agar kedepan hasilnya bisa lebih optimal dan sesuai kapasitas otakmu. Papa mama hanya bisa mendoakan agar kedepan nilai raport bagus serta perilaku kalian sama dengan nilai yang didapat. Tidak mudah namun dengan bekerja keras kalian akan mampu mewujudkannya. Wong mas dan mbak juga bisa membuktikan, dulu pernah meraih posisi ke 2. Bagi papa mama, landasan nilai bagus itu harus didapat dengan jujur dan tak boleh curang. Yakinlah nak, kalian bisa....

02 Desember 2010

Hamsternya udah gede

Tanpa terasa usia hamster kami sudah 13 hari sejak kelahiran mereka pada 19 November lalu. Kini mereka tumbuh bertambah besar dan lucu-lucu. Mata kecil mereka telah terbuka sejak kemaren dan gerakan yang dilakukannya lincah. Bahkan sudah mencoba mainan roda putar meski masih terlihat kesulitan naik maupun memutarnya. Kedua anak hamster itu masih menyusu pada induknya yang terkadang hingga sambil berlaripun mulut mereka masih nempel dibagian badan bawahnya.

Kami sering memandangi secara bersamaan. betapa lucunya anak-anak hamster yang mungil. Kadang kalau induknya berada diatas badan mereka, sungguh kasihan. Tapi bisa saja itu cara mereka menjalani hidup atau itu saatnya mereka bercandaan. Kebetulan warna bulunya mirip pada kedua induknya. Satu putih dan satu coklat namun dengan ciri khas garis tegas ditengah punggungnya.

Sebenarnya anak hamster itu ada 3 tetapi yang satu ternyata tidak terselamatkan. Seandainya masih hidup, bisa saja warna bulunya kombinasi dari kedua induknya. Sejak lahir, kandang itu tak bisa kami bersihkan soalnya banyak artikel yang menyarankan untuk tidak banyak disentuh tangan. Otomatis kami hanya memberi makan, mengecek minum atau mengamati apakah mereka masih didalam kandang atau sudah raib.

Belum ada pikiran apakah nanti akan kami belikan kandang baru untuk memisahkan kedua anaknya ketika telah mulai besar atau tetap saja. Hanya resikonya bila beranak lagi, bisa saja anak2 yang baru lahir dimakan oleh anak2 yang telah besar. Namun bila dibelikan kandang baru, otomatis membutuhkan tempat lagi. Yah, rumah kami hanya seukuran 70m2 yang mungil dan tak luas. Menambah sebuah barang menimbulkan konsekuensi.

Mungkin besok akan dibicarakan bersama agar ada jalan keluar terbaik. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan tak boleh buru-buru. Menurut mama, kandang harus selalu dalam kondisi bersih karena pada dasarnya hamster itu dari jenis tikus dan mudah membawa virus. Bila kakak dan mbak tak rajin membersihkan, lebih baik dibebaskan saja hamster itu. Kasian kan kalau terus dikandang. Malah bisa tersiksi apalagi telat memberi makan. Pasca anak-anak hamster tumbuh besar, kedua induknya terlihat makan jauh lebih lahap.

Template by:

Free Blog Templates