Tampilkan postingan dengan label Mbak Alma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mbak Alma. Tampilkan semua postingan

07 September 2017

Save Me

Kristal menengadah. Air matanya hampir tumpah.
                Aku udah nggak tahan lagi, ia mengeluh. Aku capek, Tuhan. Tolong aku.
                Entah mengapa, mendadak tubuh Kristal seperti tidak bertulang. Kepalanya ambruk di meja.
                Chantal yang duduk di barisan depan menoleh ketika mendengar benturan keras. “Astaga, Kristal! Kamu kenapa?” ia bergegas menghampiri Kristal, yang mulai mengeluarkan isakan kecil. “Kris? Kamu gapapa?”ia mengguncangkan tubuh Kristal dengan panik.
                “Ga-papa.”Kristal menengadah.
                “Matamu bengkak! Kamu kenapa nangis?”Chantal masih panik.
                “Aku Cuma ngantuk, Chan. Semalam aku ga tidur,”Kristal nyengir lemah, menyeka mata.
                “Bohong! Kalau ngantuk ngapain nangis?”
                “Karena aku capek banget, beneran.”
                “Kalau gitu, tidur di UKS aja,”saran Chantal.
                “Iya. Aku ke UKS dulu. Tolong nanti ijinin ya,”Kristal merapikan buku-bukunya, tapi dicegah Chantal.
                “Aku aja yang ngeberesin. Kamu ke UKS sana, buruan.”
                “Oke, makasih.”tatapan Kristal tampak meredup. Ia berjalan pelan keluar kelas.
                Chantal tersenyum pada Kristal. Lalu ia mulai membereskan buku-buku Kristal. Ia menemukan selembar coretan di cover buku Kristal, bertuliskan I’m fine, dengan model huruf yang aneh. Chantal hanya mengendikkan bahu. Ia hendak menumpuk buku itu dengan yang lain ketika menyadari sesuatu. Ada bercak darah di ujung buku itu. Bahkan, darah itu menempel di ujung jari Chantal.
                Darah itu baru.
                Detik itu juga, Chantal merasa tidak nyaman.


              
                Kristal menggeliat. Terhitung sudah dua jam ia di UKS, tapi tidak kunjung tidur juga. Padahal matanya sudah mirip sekali dengan panda, ia juga belum tidur semenjak kemarin, tapi ia tidak bisa tidur juga.
                Ugh. Menyebalkan.
                Kristal meringkuk, memeluk lututnya, teringat kembali malam tadi.
               
Rumah Kristal, 23.20 p.m.
                “Uwaah, akhirnya drama ini selesai juga. Saatnya tidur,”Kristal bersenandung sambil mematikan laptopnya. “Lee Jongsuk benar-benar pandai acting,”ia tersenyum lebar melihat actor favoritnya yang dia jadikan wallpaper laptop. Ia menunggu hingga laptopnya benar-benar mati, lalu beranjak tidur.
                “Suatu hari nanti, aku akan pergi ke Korea, melihat Jongsuk. Setelah itu, aku akan menonton konser…”
                PRANG!
                Mimpi Kristal terputus.
                Terdengar suara jeritan dan beberapa barang pecah. Kristal tahu betul, suara itu dari lantai satu. Pasti dari dapur.
                Kristal menggigit bibir. Kali ini suara berang ayahnya terdengar oleh kupingnya.
                Ayolah, bukannya Kristal sudah menutup pintu rapat-rapat? Lalu mengapa suara ayah masih bisa terdengar?
                Kristal memejamkan mata, berusaha tidur. Tapi suara-suara dari bawah berebutan menembus telinganya. Entah benda pecah, bentakan ayah, atau… jeritan mama. Kristal mendesis demi mendengar semua itu. Ia kelewat lelah mendengar pertengkaran orangtuanya. Seperti sebuah acara, pertengkaran itu selalu terjadi di malam hari, dimana orangtuanya berpikir kalau Kristal sudah tidur.
                Kristal menyeringai kecil. Bahkan tiap pagi ayah-mamanya selalu bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Mereka tidak tahu, Kristal sudah mendengar pertengkaran mereka sejak dua bulan yang lalu. Kristal tidak pernah tidur di malam hari dua bulan terakhir, karena pertengkaran itu.
                Dan, tiap malam Kristal selalu menangis. Ia benci orangtuanya. Lebih tepatnya, ia benci pertengkaran orangtuanya.
                Tapi malam ini, air mata Kristal sudah mongering. Ia lelah menangis terus.
                Kristal memejamkan mata lagi, memaksa tidur. Besok ada ulangan matematika, ia tidak boleh mengantuk di sekolah.
 Tapi seperti malam-malam sebelumnya, Kristal tidak bisa tidur. Seperti biasanya, justru aneh kalau Kristal bisa terlelap di antara pertengkaran orangtuanya.

                Kristal menghela napas, membenamkan diri di bantal UKS. Ia sungguh lelah, ia butuh tidur.
                Kristal mencengkram sprai UKS berang. “Awh!”Kristal menjerit tertahan.
                “Bodoh,”ia merutuk dalam hati, melihat bercak darah di sprei. Ia mengangkat tangannya, menemukan bahwa darah masih mengalir dari pergelangan tangannya. Kristal membebat tangannya dengan jaketnya asal. Lalu ia menyambar bantal untuk menutup wajahnya.
                “Tolong,”bisiknya di balik bantal. “Aku mau tidur, sebentar saja.”

                Chantal meregangkan tangannya. “Yay, akhirnya selesai matematika. Fiuh.”
                “Iya, iya, yang bisa ngerjain. Meski bisa, gausah sombong gitu dong,”kata Sarah, teman sebangku Chantal dengan sensi. “Tau ga sih, kamu itu Cuma beruntung semata, be-lum ja-go.”Sarah menekan kata-katanya. “Bahkan si Kris yang jenius aja biasa aja dapet seratus.”
                “Btw, tumben Kris ga masuk?”Tya yang duduk di belakang Chantal dan Sarah menyahut.
                “Masuk, kok. Orang ada tasnya,”Bianca menjawab.
                “Eh iya, tadi Kris ke UKS,”Chantal memberi tahu. “Tapi sampai sekarang belum balik. Mungkin capek banget. Abisnya tadi matanya bengkak, kaya kurang tidur gitu. Terus dia sempat nangis juga. Waktu kutanya, dia bilang dia capek banget.”
                “Oh, jadi yang numpuk buku-buku Kris itu kamu?”Tanya Tya. “Pantesan berantakan gitu. Kupikir Kris udah gila.”
                Chantal nyengir. Kristal itu perfeksionis, dia tidak bisa melihat sesuatu berantakan. Pasti tangannya tergeak untuk merapikan barang-barang, termasuk barang teman-temannya sekalipun. Chantal dan teman-temannya sering mengira Kristal mengidap antoxphobia (fobia terhadap ketidakteraturan) karena sifatnya itu.
                “Bian, ngapain kamu?”Tanya Sarah melihat Bianca memberesi buku-buku Kristal.
                “Mending kurapiin aja lah, biar kalau Kristal nggak ngamuk kalau balik,”Bianca menjawab ringan. Sesaat, Chantal, Sarah, dan Tya hanya melamun sementara Bianca meneruskan kegiatannya. Makanya, mereka bertiga terlonjak kaget ketika Bianca berteriak.
                “Astaga! Ini apa, coba!”Bianca membelalak memandangi buku di depannya.
                “Apa? Apa?”Chantal, Sarah dan Tya gedubrakan menghampiri Bianca.
                “Loh, itu kan coretan yang tadi. Kenapa memangnya?”keingintahuan Chantal surut melihat Bianca yang memegang buku yang covernya ada coretan ‘I’m fine’ yang tadi dilihatnya.
                “Save me,”Sarah menggumam.
                “Save me? Bukannya I’m fine?”Chantal heran. Ia melihat ke coretan tadi, dan benar saja. Coretan itu membentuk tulisan save me. Chantal melongo. “Demi apapun, tadi tulisannya I’m fine.”
                “Ah!”Tya menyambar buku itu, lalu dibaliknya. “Lihat! Tulisannya jadi I’m fine!”
                Mata Chantal, Sarah, dan Bianca membulat. Benar, tulisannya jadi I’m fine sekarang, seperti yang dibaca Chantal tadi. Chantal membolak-balik buku itu, memastikan penglihatannya.
                “Betul,”katanya, “Pantesan jenis tulisannya aneh gitu. Ternyata kalau dibalik bisa dibaca.”
                “Kris keren, ya, bisa bikin beginian.”
                Keempat perempuan itu masih mengagumi tulisan Kristal ketika bu Jody datang dengan tergesa.
                “Siapa yang terakhir melihat Kris? Tolong ikut Ibu ke Rumah sakit.”
                Chantal terperangah. “Ada apa, Bu?”
                “Tolong ikut saya dulu. Nanti saya jelaskan.”
                Chantal akhirnya mengikuti bu Jody. Ia berlari kecil untuk mensejajari langkah lebar guru bimbingan konselingnya. “Bu Jody!”panggilnya, dengan langkah terengah. “Tolong jelaskan, Kristal kenapa?”
                “Kristal ditemukan tak sadarkan diri di kamar mandi. Ia menyayat nadinya, dan mencegah pembekuan darah dengan merendam tangannya di air hangat.”
                Mendadak Chantal menghentikan langkah. Kakinya melemas.
                “Kristal…?”air mata menggenangi pelupuk mata Chantal. “Kok bisa…?”ia menyeka mata, kembali mengejar bu Jody.
                “Kristal sepertinya memendam banyak masalah di rumah,”bu Jody menghela napas. “Orangtuanya tidak akur, jadi ia sering stress. Dan Kristal punya kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri,”bu Jody menjelaskan lagi. “Bahkan di tangannya, ada goresan yang sepertinya dibuat dengan pisau lipat, bertuliskan I’m fine. Tapi dokter di rumah sakit bilang, di tangannya ada tulisan save me, bukan I’m fine. Membingungkan.”
                Chantal terhenyak. Tiba-tiba, adegan tadi pagi di sekolah terlintas di benaknya. Begitu jelas, sehingga rasanya seperti menonton film.

Kelas, 06.00 WIB.
                Chantal memasuki kelas dengan riang. Akhirnya ia bisa berangkat pagi juga. Masih ada banyak waktu untuk mengerjakan pr.
                “Eh, Kris! Sudah datang?”Chantal menyapa Kristal, satu-satunya teman yang sudah datang. “kamu mengerjakan peer juga?”
                Kristal memandang spidol di genggamannya sambil tersenyum miring. “Aku Cuma lagi coret-coret. Yah, kau tahulah, kerjaan orang iseng.”
                Chantal Cuma tertawa. Ia meletakkan tasnya di meja, mulai mengerjakan peer. Tiba-tiba, selembar kertas cover mendarat di mejanya. “Eh?”Chantal mengambil kertas itu. “Ini punyamu, Kris?”
                “Iya, makasih.”Kristal mengambil cover itu dari tangan Chantal, tersenyum kecil. Chantal mengangguk, lalu kembali mengerjakan peer.
                5 menit setelah itu, Kristal ambruk di mejanya.

                Chantal mendesis jengkel. Sekarang ia baru menyadari bahwa Kristal sudah memberinya kode. Cover yang mendarat di mejanya tadi pagi adalah cover yang bertuliskan I’m fine, save me.
                Dan bodohnya, Chantal sama sekali tidak menyadari itu. tangan Chantal mengepal, pandangannya memburam karena air mata. Ia kesal sekali pada dirinya sendiri yang begitu bodoh.
                “Chantal?”panggil bu Jody. “Ayo, operasi Kristal 10 menit lagi. Kita harus sampai di rumah sakit secepatnya.”
                Chantal mengangguk. Ia harap, ia masih bisa bertemu Kristal lagi.
                 

               






07 Juni 2017

Lari Keira

            “Keira, kamu nggak papa?”
Wajah Keira memucat. Matahari yang bersinar terik membuat keringat sebesar biji jagung mengalir melewati pelipisnya. Dia menyekanya.
“Biar aku antar pulang ya?”
Keira tercekat. Mendengar kata pulang, di benaknya langsung terngiang mamanya, atau lebih tepatnya wanita yang memaksa dipanggil mama yang membentak-bentak Ace dan ia tadi pagi. Mama itu bahkan melempar piring pada Ace. Dan saat Keira menggapainya, piring yang lain menyusul ‘terbang’. Pecahannya menggores lengannya, tapi dia bersyukur Ace baik-baik saja. Keira merasa frustrasi saat di rumah, dan ia jadi membenci kata pulang. Ia ingin lari dari kehidupannya. Ia ingin lari dari mamanya yang menjemukkan.
Ia beruntung bisa mengantar Ace hingga selamat ke taman kanak-kanaknya pagi itu. Setidaknya, guru-guru Ace bisa menjaga Ace hingga waktu pulang tiba.
Tunggu, mata Keira membulat. Hari ini ia ada kegiatan ekstrakulikuler hingga sore, dan taman kanak-kanak Ace tutup pada jam dua siang. Bagaimana bila guru Ace menelepon ke rumah, lalu mama menjemput Ace?
Bolos.
Keira tergugah. Ya, bolos adalah satu-satunya jalan yang paling tepat. Ia akan bolos ekstrakulikuler, bahkan ia akan bolos pada pelajaran terakhir. Demi Ace.
“Keira!”
Keira mengerjapkan mata. Lamunannya buyar.  “Y-Ya?”
“Kamu pasti sakit banget, sampai melamun gitu,”Tsabita mencondongkan badan dengan ekspresi khawatir. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Keira. “Tuh kan! Sepertinya kamu demam.”
“Pulang saja Kei, ketimbang kamu pingsan di sekolah,”Zara mengibaskan topi upacaranya. Ia menggamit lengan Keira, “Ayo minta ijin ke BK.”
Saat Keira berpikir bahwa tidak mungkin BK yang kejam itu memperbolehkannya pulang, Tsabita menarik mereka dengan bingung. “Zara, ruang BK di sebelah sana. Kamu melawan arus.”
Zara berbalik, menyeringai. “Ayolah, jangan bilang kau berpikir aku akan ke BK sungguhan.”
“Apa? Lalu, kemana?”Tanya Keira.
            Zara mengedip, “Ikuti saja aku.”
***
            “LARI, KEIRAA! TERUSLAH BERJUANG!”Tsabita berteriak. “JANGAN MENGKHAWATIRKAN APAPUN, LARILAH!”sekarang suaranya seperti tikus terjepit pintu.
            Keira terengah-engah, menoleh ke belakang. Jantungnya semakin berpacu ketika melihat Mang Edi, satpam sekolahnya, berhasil menangkap Tsabita. Keira menggigit bibir, mempercepat lajunya. Ia mengeluh dalam hati, kenapa baru beberapa meter mereka sudah tertangkap. Lagipula, bagaimana mang Edi tahu kalau mereka lari dari sekolah? Padahal mereka sudah berhati-hati memanjat pagar. Banyak hal berkecamuk di pikiran Keira sementara kakinya terus berderap. Beberapa detik kemudian, ia mendengar jeritan Zara. Keira memalingkan muka ke belakang. Mang Edi telah berhasil meraih tas Zara.
            “Zara!”Keira melotot, memperlambat lari. Zara menendang tangan Mang Edi yang menarik tali ranselnya, tapi Mang Edi malah menangkap sepatunya yang terlepas ke udara. “Oh my Gosh, sepatu dua jutakuuu!”Zara menggapai sepatunya.
            “Nanti saya kembalikan di sekolah!”seru mang Edi. Zara mengerucutkan bibir. Tapi sejurus kemudian ia menghadap Keira, membentuk toa dengan kedua tangannya, 
            “LARI, KEIRA! BIARKAN AKU DAN TSABITA DIGELANDANG KE BK! KAMI BAIK-BAIK SAJA, PERCAYALAH!”teriakan Zara mengambang di udara sekitar Keira. Keira seperti dikejutkan dengan listrik, ia menyadari tak ada gunanya menyerahkan diri untuk dibawa ke BK. Ia harus berlari, menghindari mang Edi, dan menjemput Ace.
            Maka Keira sudah berlari lagi sepersekian detik kemudian, sengaja melewati pasar yang ramai. Tentu saja mang Edi susah mengejarnya. Mang Edi memperingatkan hukuman yang akan diterima, tapi Keira tidak peduli. Ditangkap sekarang atau nanti, aku tetap akan dapat hukuman, kok.
***
Keira sampai di sekolah Ace setengah jam kemudian dengan kondisi mengenaskan. Kulitnya berminyak karena keringat. Belum lagi rambutnya. Ia mengikat rambut dengan asal-asalan sebelum masuk ke sekolah Ace.
Ketika berbelok di sebuah lorong, Keira tertegun. Ace digandeng orang lain. Langkahnya riang, hingga tas birunya seakan ikut melompat-lompat. Tangannya mengepal. Tidak boleh ada orang yang menyentuh Ace-nya.
Setelah ini, Keira akan memikirkan bagaimana caranya lari bersama Ace, tapi sekarang Ace malah digandeng orang lain.
Keira maju, menghampiri Ace dan orang itu dengan marah. Ia menarik Ace hingga genggaman orang tadi terlepas. Keira langsung memeluk Ace erat-erat. “Maaf, ini adik saya dan Anda tidak berhak—”
Suara Keira tersangkut di tenggorokan begitu ia menengadah. Rahangnya terasa jatuh. Lututnya melemas hingga ia jatuh terduduk.
Di depannya berdiri orang itu. Orang yang ia pikir asing sama sekali, tapi nyatanya tidak. Lihatlah, lihatlah mukanya. Mukanya begitu mirip dengan Keira. Seperti Keira di masa depan. Perbedaanya hanyalah pada kerut-kerut wajah, karena factor usia. Bahkan tinggi mereka sepantaran.
“Kau—”Keira terbata-bata. “Papa bilang kau sudah meninggal.”
            “Keira, ya?”Air mata menggenang di mata Keira versi dewasa itu. “Kau bilang kau adalah kakaknya Ace, kan? Berarti, kau Keira, ya?”suara lembut itu menggetarkan hati Keira. Napas Keira tersendat. Suara itu…. Sama dengan suara di teddy bearnya. Suara yang sama ketika Keira menekan bentuk hati pada Teddy Bearnya. Suara yang selalu didengarnya sebelum tidur. Suara yang mengatakan ‘I love you, my Baby Bear’ berulang-ulang.
            Suara yang kata Papa, adalah suara mama aslinya.
            Keira masih tidak bergerak. Pikirannya kalut.
            “Mama,”Ace membebaskan diri dari pelukan Keira, dan memeluk ‘Keira dewasa’ itu, sementara si Keira dewasa sibuk menyeka air matanya sendiri, terisak memeluk Ace.
            Ta-tapi, mengapa Ace kelihatannya dekat sekali dengan orang itu? 
“Ma-Mama menjadi guru TK disini,”si Keira dewasa masih menyeka air matanya yang terus keluar. “Sejak awal Mama merasa ada sesuatu pada Ace. Mama pernah mengikutinya saat pulang, dan ternyata betul dugaan Mama, Ace adalah anak Mama yang dibawa Papamu. Papamu tahu Mama disini dan mengijinkan Mama bersama Ace terus. Dan Mama selalu bersama Ace di sekolah, Mama barumu mengetahuinya,”penjelasan mengalir dari Keira dewasa itu. Ia mengelus pipi Ace dengan sayang, sementara Ace mulai tertidur di pangkuannya. “Tapi Mama tidak pernah menduga akan bertemu denganmu. Papamu melarang Mama menemani Ace saat menunggu jemputannya.”
Keira meneguk ludah. Sulit baginya untuk memercayai semua ini. Yah, meski wajahnya mirip sekali dengan wajah mama itu.
“Ternyata, kamu sudah besar sekali sekarang. Tumbuh menjadi gadis cantik dan pintar. Mama bangga,”mama tersenyum tulus, menghapus sisa air matanya. Keira menggigit bibir. Hatinya meronta ingin memeluk mamanya, tapi tangannya berat sekali, tidak mau bergeser sesentipun.
“Maafkan Mama, tidak bisa mendampingimu tumbuh. Maafkan Mama, tidak bisa mengambil hak asuh dari Papamu,”mata mama basah kembali. “Maafkan Mama… hanya bisa menemani lewat Teddy Bear itu.”
Kalimat terakhir mendorong tubuh Keira maju. Tiba-tiba saja Keira sudah memeluk mamanya, erat, dan menangis di lengannya. Beban pikirannya mengalir perlahan lewat air matanya.
“Ma… ijinkan aku tinggal denganmu,”bisik Keira.
“Tentu saja, Baby Bear.”
Kalimat terakhir mama membawa beban terakhir Keira pergi. Keira tersenyum, memeluk mamanya lebih erat. Ia tidak perlu lari kemanapun juga kali ini. Ia akan aman bersama mamanya.






14 Februari 2017

Alea

                Alea memaksakan kakinya untuk tetap berlari. Dia berlari secepat yang dia bisa, sambil berusaha mengontrol napas. Inhaler yang sudah dia pasang di depan hidungnya tidak ada pengaruhnya, karena toh Alea bernapas dengan mulut. Alea merasa putus asa. Napasnya makin pendek-pebnmmndek. Pandangannya mulai buram.
                “RRRRR,”
                “Please, jangan. Jangan.”Alea komat-kamit. Dia makin mempercepat larinya, meski rasanya jantung mencelos, siap meledak. Dia sudah melewati banyak sekali pohon pinus hari ini. Awalnya dia takut tersesat, tapi apa daya. Tanpa dia sadari, kakinya terbelit pada sebuah sulur pohon dan otomatis dia terjatuh.
                Bruk!
                “Tuhan,”keluh Alea. Inhalernya menggelinding jauh.  Air matanya keluar, bercampur keringat yang menderas. Dia benar-benar tidak kuat. Asmanya begitu kuat mengikat paru-parunya. Dia menunduk, berusaha mengontrol napas. Sebuah boneka berbentuk panda lusuh yang dia jadikan bandul kalung terjatuh. Alea mencengkram boneka itu, berusaha berdiri. Dia bisa merasakan derap kaki itu bertambah suaranya, mendekat. Alea yang akan berlari jatuh lagi. Ah, kakinya masih terbelit sulur. Dengan tergesa, ditariknya sulur itu, tapi tangannya malah berdarah oleh sulur tajam tersebut.
                “RRAAAAA!”tiba-tiba sebuah tangan mencekik lehernya, kuat. Alea makin kehabisan napas. Dia megap-megap ketika tubuhnya dibanting dalam satu gerakan.
                “Jangan, Mile. Jangan...”Alea terisak. Mile, orang yang mencekik lehernya tadi menghunuskan pisau. Hidupnya benar-benar di ujung tanduk.
                “Mile, tolong...”Alea mengusap keningnya. Dia menyeka matanya, menunduk. Jangan lihat, Alea. Lebih baik mati melihat tanah, daripada melihat mata pembunuh itu. Alea mengepalkan tangannya, dan menyadari bahwa boneka tadi teremas. Alea tertegun menatap boneka itu. Lebih tepatnya, kaki boneka itu. Kaki itu berlubang, terlihat bekas kekuningan di sekitar lubang itu. Lubang itu....
***
Desember 1998.
                “Tangkap bola ini!”Ilan, kakak Alea melemparkan bola karet yang lentur. Alea kecil melompat tinggi-tinggi, tapi bola itu tidak tertangkap olehnya. Malah, bola biru itu melewati jendela gudang rumah mereka dan masuk gudang. Terdengar bunyi kelontangan.
                “Alea payah.”Ilan bergegas masuk gudang, namun dia dihalangi Alea.
                “Kata Ayah, kita dilarang masuk gudang,”dengan mata besarnya, Alea membentangkan tangannya.
                “Tapi bolanya masuk. Sudahlah. Ayah melarang kita dua tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kecil. Karena sekarang aku sudah besar, aku berhak masuk gudang itu,”kata Ilan congkak. Kepalanya didongakkan dan menepuk dadanya bangga. Padahal umurnya  baru sepuluh tahun, namun dia sudah merasa dewasa sekali.
“Berjanjilah untuk keluar sesegera mungkin setelah bola itu ditemukan,”kata Alea lirih.
“Janji. Kau tahu? Karena aku ini abangmu, maka aku berhak untuk memimpinmu.”Ilan, masih dengan kepala mendongak, berjalan mendahului Alea untuk masuk ke gudang. Alea sebenarnya takut melanggar perintah ayahnya, namun dia ikut saja. Dia berpikir apa yang dilakukan Ilan selalu benar.
                Untuk pertama kalinyalah, mereka memasuki gudang terlarang itu. Gudang itu berantakan, penuh debu. Alea memegangi ujung kaos abangnya, merasa was-was. Dia mengedarkan pandangnya, menemukan bola biru di bawah sebuah meja tua penuh debu. Dia mengambil bola itu, senang.
                “Abang, ayo keluar. Aku sudah menemukan bolanya.”
                “Tunggu.”abangnya malah asyik dengan benda-benda kuno di sudut ruangan. Alea mengerutkan keningnya.
                “Tapi abang tadi sudah jan—”
                “Apa ini?”seruan Ilan memutus perkataan Alea. Alea menghampirinya, dengan penasaran sekaligus takut. Dia melihat sebuah boneka kecil berbentuk panda yang tampak usang, dipakukan kakinya pada sebuah kayu bundar. Boneka itu amat menggemaskan meski lusuh.
                “Boneka itu lucu. Aku mau,”seru Alea.
                “Nggak. Ayo kita keluar,”Ilan tidak setuju.
                “Aku mau boneka itu, tolong.”Alea meraba lehernya, melepas kalung sederhana tanpa bandul untuk disodorkan pada kakaknya. “Ukurannya cocok. Abang tahu? Di sekolah, kalung ini selalu diejek. Teman-teman menyuruhku membuangnya. Tapi karena kalung ini dari Ayah, aku tidak mau melepasnya. Tapi tolong pasangkan boneka itu sebagai bandul kalungku,”Alea merengek.
                “Tidak. Sekali tidak tetap tidak.”Dengan paksa, Ilan menyeret Alea keluar gudang. Alea merengut. Dia menatap panda itu dengan sayu.  Panda itu tetap berdiri di tempatnya, dengan kaki yang dipakukan ke kayu.
                Tapi, satu minggu kemudian, panda itu telah berpindah tempat—menjadi tergantung-gantung di leher Alea sebagai bandul. Alea senang, dia punya hiasan kalung dan kalung itu sudah tidak diejek lagi.
                Dan, tanpa dia sadari, ada seorang murid baru bernama Mile, yang matanya menyala setiap dia melihat Alea. Alea takut pada Mile, terlebih tatapannya. Bahkan Ruli, seorang temannya bercerita bahwa Mile  bukanlah seorang manusia.
***
                Alea tersengal. Dia tahu sekarang. Mile bukanlah seorang manusia. Dia seorang penjahat kejam. Alea meringis ketika kepalanya diputar oleh Milea. Dirinya diangkat tinggi-tinggi dengan satu tangan. Tatapannya bengis. “Terimakasih sudah membebaskanku.”
                Dengan susah payah, Alea membalas, “Ap-pa maksud-mu?”
                “Ya, kau membebaskanku,”Mile menjilat bibir keringnya. “Tapi aku butuh darah.”
***
Februari 2002, di rumah sakit kota.
                “Kau tahu, Alea?”Ilan berkata dengan tergesa, napasnya tersengal-sengal. Dia menghirup napas dari tabung oksigen di ruangan putih tersebut. “Aku ber-mimpi. Mimpi per-tamaku di rumah sakit. Di mim-pi itu, Ayah be-berkata, ‘aku memakukan kakinya sebab itu dapat mengurungnya’. Da-dan aku berpi-pikir ka-llau ya-yang di-makh-sud ayah...”
                Belum selesai bicara, Ilan sudah kehilangan kesadaran. Alea memeluknya sambil menangis, panik memencet tombol pemanggil perawat. Butuh lima detik sebelum perawat-perawat berdatangan. Butuh sepuluh detik sebelum Ilan benar-benar dinyatakan pergi oleh dokter.
                Tinggallah Alea terisak sendirian di lorong lengang rumah sakit raksasa itu.
***
                Alea dibanting lagi. Dia benar-benar lemas, tubuhnya sakit semua. Kepalanya berputar.
***
Juli 2017, di kelas.
                Alea mengayunkan sapunya. Debu-debu berterbangan. Alea mengeluh. Hari ini jadwal piketnya bersama Mile. Sebetulnya Rio juga piket, tapi dia hilang entah kemana.
                Sekelebat bayangan melewati punggung Alea. Alea merasakan punggungnya panas. Dia menoleh, dan mendapati Mile berubah menjadi monster mengerikan. Dia mengangkat pisau ke arah Alea. Tanpa berpikir panjang, Alea menghantamkan sapunya ke kepala Mile, lalu lari secepat kilat ke samping sekolah.
                Dia tak mempedulilkan orang-orang yang menatap heran, yang jelas kakinya terus berpacu. Hingga memasuki hutan pinus.
***
                Alea mengerjapkan mata. Dia tahu. Dia tahu kelemahan Mile. Aku harus mengalihkan perhatiannya.
                “Alea. Ada salam terakhir?”Mile mendongakkan wajah Alea dengan satu tangan. Sedang tangan lainnya mengangkat pisau tinggi-tinggi.
                Alea menggigit bibir, mengumpulkan tenaga.
                Mile mendekatkan wajahnya ke Alea. “Tidak ada? Apa kau yakin?”
                Klontang! Pisau itu ditendang Alea jauh-jauh, dengan sisa tenaganya. Mile meraung marah. Dia melompat untuk mengambil pisaunya diantara semak-semak. Alea, dengan cepat menggulingkan diri, menjauh. Dia meletakkan bandul kalungnya tadi di tanah, merenggut pin dari bajunya, dan dengan cepat menusukkannya ke kaki boneka itu.
                Mile yang berhasil menemukan pisau tadi, dengan cepat berusaha menusukkan pisau itu. Tapi, bersamaan dnegan Alea yang menusukkan jarum kedua, Mile menghilang, bak bubuk yang ditiup angin.

                Lepas itu, Alea merasa tubuhnya tidak berdaya. Diiringi dengan embusan angin melalui sela pohon pinus, matanya terpejam.

09 Desember 2016

Boneka Panda (II)



Alea tersengal. Dia tahu sekarang. Mile bukanlah seorang manusia. Dia seorang penjahat kejam. Alea meringis ketika kepalanya diputar oleh Milea. Dirinya diangkat tinggi-tinggi dengan satu tangan. Tatapannya bengis. “Terimakasih sudah membebaskanku.”
                Dengan susah payah, Alea membalas, “Ap-pa maksud-mu?”
                “Ya, kau membebaskanku,”Mile menjilat bibir keringnya. “Tapi aku butuh darah.”
***
Februari 2002, di rumah sakit kota.
                “Kau tahu, Alea?”Ilan berkata dengan tergesa, napasnya tersengal-sengal. Dia menghirup napas dari tabung oksigen di ruangan putih tersebut. “Aku ber-mimpi. Mimpi per-tamaku di rumah sakit. Di mim-pi itu, Ayah be-berkata, ‘aku memakukan kakinya sebab itu dapat mengurungnya’. Da-dan aku berpi-pikir ka-llau ya-yang di-makh-sud ayah...”
                Belum selesai bicara, Ilan sudah kehilangan kesadaran. Alea memeluknya sambil menangis, panik memencet tombol pemanggil perawat. Butuh lima detik sebelum perawat-perawat berdatangan. Butuh sepuluh detik sebelum Ilan benar-benar dinyatakan pergi oleh dokter.
                Tinggallah Alea terisak sendirian di lorong lengang rumah sakit raksasa itu.
***
                Alea dibanting lagi. Dia benar-benar lemas, tubuhnya sakit semua. Kepalanya berputar.
***
Juli 2017, di kelas.
                Alea mengayunkan sapunya. Debu-debu berterbangan. Alea mengeluh. Hari ini jadwal piketnya bersama Mile. Sebetulnya Rio juga piket, tapi dia hilang entah kemana.
                Sekelebat bayangan melewati punggung Alea. Alea merasakan punggungnya panas. Dia menoleh, dan mendapati Mile berubah menjadi monster mengerikan. Dia mengangkat pisau ke arah Alea. Tanpa berpikir panjang, Alea menghantamkan sapunya ke kepala Mile, lalu lari secepat kilat ke samping sekolah.
                Dia tak mempedulilkan orang-orang yang menatap heran, yang jelas kakinya terus berpacu. Hingga memasuki hutan pinus.
***
                Alea mengerjapkan mata. Dia tahu. Dia tahu kelemahan Mile. Aku harus mengalihkan perhatiannya.
                “Alea. Ada salam terakhir?”Mile mendongakkan wajah Alea dengan satu tangan. Sedang tangan lainnya mengangkat pisau tinggi-tinggi.
                Alea menggigit bibir, mengumpulkan tenaga.
                Mile mendekatkan wajahnya ke Alea. “Tidak ada? Apa kau yakin?”
                Klontang! Pisau itu ditendang Alea jauh-jauh, dengan sisa tenaganya. Mile meraung marah. Dia melompat untuk mengambil pisaunya diantara semak-semak. Alea, dengan cepat menggulingkan diri, menjauh. Dia meletakkan bandul kalungnya tadi di tanah, merenggut pin dari bajunya, dan dengan cepat menusukkannya ke kaki boneka itu.
                Mile yang berhasil menemukan pisau tadi, dengan cepat berusaha menusukkan pisau itu. Tapi, bersamaan dnegan Alea yang menusukkan jarum kedua, Mile menghilang, bak bubuk yang ditiup angin.
                Lepas itu, Alea merasa tubuhnya tidak berdaya. Diiringi dengan embusan angin melalui sela pohon pinus, matanya terpejam.

Template by:

Free Blog Templates