Afin, alma dan adhan merupakan buah cinta kami yang dimasa mendatang menjadi kebanggaan. Merekalah yang membikin kami hidup bahagia seperti sekarang ini. Anak-anakku.....kalian inspirasi bagi semangat hidup papa dan mamamu.....
Tiga hingga empat hari menjelang ulang tahunnya, dik Adhan
sering berbicara mengingatkan. “Siapa ya yang sebentar lagi ulang tahun?”
dengan mata berbinar. Tentu kami semua tertawa mendengarnya. Ah sepertinya dia
menunggu moment ini dengan amat sangat. Kami kadang menimpali dengan
berpura-pura lupa, “emang ada yang mau ultah?”.
Selama ini kebetulan tidak ada lomba. Tidak hanya karena
tidak ada lomba yang digelar namun kebetulan pula tidak ada lawan yang
sebanding. Ya, hingga tahun lalu dik Adhan merupakan anak terkecil dikampung
sehingga kalau toh pun ada lomba ya tiada lawan.
Ah mau bagaimana lagi kalau mama sedang keluar kota
sementara mas Afin dan mbak Alma sekolahnya padat sampai sore, mau tidak mau
adik bersama papa. Ya selama 7 hari mama keluar kota adik 4 hari ngikut papa
dikantor.
Bertemu saudara sepupu cuma sebentar sebab Naya esok harinya
sudah harus perjalanan ke Brebes. Jadi ga banyak yang diperbinjangkan oleh dik
Adhan. Esoknya juga bingung mau bermain apa. Awalnya mainan sepeda roda 4 namun
papa melihat bila nekad dinaiki akan berbahaya sebab 2 roda kecilnya tidak
stabil sehingga mudah ambruk.
Si kecil nan cuek ini akhirnya sampai juga di semester
akhir. Papa sih merasakan dia makin cuek saja dengan sekolahnya. Yam au
bagaimana lagi, sepertinya asyik juga ngeliat anak bebas. Ga dituntut banyak
belajar ini dan itu. Belajar tiap hari juga sesampainya ajah dimana tidak harus
lama.
Inilah bulan puasa pertama saat dik Adhan sudah kelas 1 SD.
Mama papa teringat beberapa tahun lalu ketika mas dan mbak Alma belajar
berpuasa. Nampaknya dik Adhan cukup siap menghadapi bulan Ramadhan ini.
Terbukti jauh-jauh hari sudah bilang soal lebaran. Hemmmm….
Awal Mei, ada 2 tanggal merah yang kebetulan hari Kamis dan Jum'at membuat papa merencanakan menengok simbah. Papa sempat menawari mas Afin, cuma kebetulan katanya ada rapat. Belum lagi tahu apakah Sabtu mas masuk apa libur. Dengan waktu libur cukup panjang bagi perkantoran, harus pesan tiket jauh hari. Kalau tidak, bisa tidak kebagian kursi.
Akhirnya diputuskan papa akan berangkat cuma berdua sama adik. Beneran kan, untuk tiket berangkat yang Kaligung tidak bisa langsung. Datang ke Poncol pukul 08.35 dan berangkat pukul 12.45. Mau bagaimana lagi, adik ga bakal mau naik bus. Lumayan lama banget dan antrian di depan pintu masuk cukup padat.
Sudah jauh-jauh hari kantor papa berencana melakukan acara family gathering. Semua rencana awal akan ikut, sekolah ijin dulu karena family gathering 2 hari, Sabtu-Minggu. Cuma karena berbagai kendala, acara yang awalnya digelar Februari terus mundur hingga diselenggarakan 23 April. Dengan jadual itu, hanya mas Afin yang bisa.
Mbak Alma sendiri kebetulan pas jadual ujian praktek sekolah pada hari Senin. Otomatis, tidak bisa ikut. Tentu butuh istirahat hari minggunya. Sedang dik Adhan, Minggu diharuskan ikut Milad SD DJI bahkan teman2nya sudah mendaftar dulu. Mama ikut saja siapa yang harus ditemani.
Rencana perjalanan ke Chimory, kemudian ke penginapan. Paginya ke pasar Bandungan, terus ke Kids Fun Salatiga dan baru pulang. Meski acara itu menarik, anak-anak papa sudah punya rencana sendiri. Bahkan mas afin yg sudah confirm ikut tiba-tiba membatalkan sebab ada rapat Osis. Papa terancam berangkat sendirian.
Pada hari Senin 21 Maret 2016, SD DJI kelas I dan II melakukan kegiatan out bond ke Banyu Sumilir Sleman. Mereka berombongan menumpang bus sewaan Raya yang berjumlah 5 buah. Berangkat pukul 07.30 dan dik Adhan masuk bus 2 duduk bersama Fadlan dan Vano. Di bus itu ada pak Bunyamin dan Bu Lukluk. Di bus tersebut kebetulan terdapat televisi yang selama perjalanan diputar film Mrico.
Adik merasa perjalanan cukup lama dan agak macet. Begitu sampai sana, begitu turun dari bus anak-anak diminta menaruh tas di ruang tas. Kemudian berkumpul di lapangan melakukan senam bersama sebagai bentuk pemanasan. Mereka diarahkan berbaris berjalan bersama melewti sawah dengan rintangan pohon yang jalanannya miring. Mereka melintasi kebun salak. Acara selanjutnya melintasi papan titian.
Sejatinya ikut lomba bagi anak-anak kami bukan melulu soal menang. Menang atau juara hanya bonus tambahan saja karena memang, membentuk mental sejak dini itu penting. Tidak mudah menguatkan mental afin, alma dan adhan sejak kecil. Menguatkan disini artinya ketika harus tampil didepan orang banyak. Secara pribadi tidak masalah, namun ketika diminta tampil, tidak mudah bagi anak-anak punya mental yang cukup berani.
Makanya bila ada kesempatan dan bisa diikuti, pasti mereka akan diikutkan. Apapun itu. Ini hanya untuk menguji mental mereka. Nah kebetulan kemarin bertepatan hari libur Nyepi, Perpustakaan Ganesa gelar lomba telling story bagi anak-anak. Nah peluang bagi adhan untuk ikut. Sepertinya menarik dan bagus untuk uji mentalnya.
Ini tahun pertama adik berada di kelas 1 dan memasuki semester pertama. Dik Adhan satu laki-laki diantara 2 anak di kelas yang paling kecil. Makanya memang sering merasa tidak pede. Hal itu terlihat ketika mulai memasuki sekolah, kelas dan bercanda sama teman-temannya. Untungnya tidak kelewat minder sehingga akan bertambah berat.
Awal menjalani mid, ketidakpedean adik menyebabkan dia selalu tanya teman sebangku soal jawaban. Hal ini dimaklumi mama karena pertama tidak tahu bahwa itu salah, kedua ketidakpedeannya itu. Nah sudah ada beberapa pesan yang disampaikan ke dik Adhan untuk menjawab soal sendiri.
Entahlah tiba-tiba si kecil ini minat banget sama yang namanya ulang tahun. Sejak papa dan mas Afin ultah semangatnya luar biasa. Namanya juga anak-anak, yang dinanti ada 2, tiup lilin dan buka kado. Sejak jauh-jauh hari sudah sering nanya "siapa ya yang tanggal 3 Sept ultah?" tentu kami semua tertawa.
Ulahnya yang tengil, suka manja-manjaan, ngelendot ke siapapun kecuali papanya. Nih yang kadang bikin sebel papa, pengen mengalami seperti jaman mas dan mbak kecil. Semua serba papa namun dik Adhan beda. Semuanya mama dan cenderung main sama kedua kakaknya. Tak jarang papa berulang kali bertanya.
Wah diceritain kejadian adik menjambak temannya membuat papa
kaget. Koq bisa ya? Padahal dia termasuk anak yang pendiam dan ga suka ribut
sama orang lain. Rupanya yang dijambak memang teman yang sama-sama badannya
kecil, namanya Afril. Sebenarnya Afril ini baik wong beberapa kali dik Adhan
ditraktir. Papa saja sampai berpesan boleh ditraktir kalau hari sabtu saja.