Tampilkan postingan dengan label Adhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adhan. Tampilkan semua postingan

04 Januari 2018

Liburan Ke Wonopringgo

Liburan telah tiba aku dan keluarga  akan liburan  ke wonopringgo. Kami akan membeli tiket di stasiun purwosari. Sampai di stasiun purwosari kami segera mengambil nomer antrian diloket ternyata kami mendapat nomer 47 ternyata masih 37 kami terus menunggu di kursi. Setelah dipanggil kami segera menuju ke loket.setelah beli tiket kami segera ke parkiran untuk menggambil motor kami. Sampai di rumah kami segera untuk menyiapkan barang-barang untuk besok. Keberangkatan telah tiba kami pun segera mandi dan siap-siap.

Setelah siap kami menelepon taksi untuk kemari. setelah taksi  ke rumah kami  segera naik ke taksi. setelah sampai di stasiun, kami segera bayar, dan turun dari taksi  dan masuk ke stasiun untuk diperiksa sama petugas. setelah diperksa kami segera masuk ke dalam kereta. Setelah masuk ke kereta kalijaga kami menuggu keberangkatan.setelah berangkat kami segera makan dan tidur. setelah sampai  di semarang kami segera turun.kami segera beli roti O,setelah beli roti O kami segera antri di bording.

Setelah antri kami segera masuk ke kereta. setelah masuk ke kereta kami segera memilih kursi di tiket kami.terus duduk di tempat duduk, terus makan roti o sambil menunggu keberangkatan. setelah berangkat kami segera menikmati pemandangan. Kurang lama kemudian kami tiba di weleri [Kendal] pada pukul 9.17 kami menunggu para penmpang naik, sambil makan jajanan. setelah berangkat dari weleri tujuan pekalongan. Kami menikmati pemandangan yang indah.

Ada pantai di dekat plabuhan. Kami segera memoto laut  cekrik,cekrik,cekrik

Karena Kereta terlalu cepat jadi fotonya burem, ada 1foto yang tidak burem.setelah satu jam berlalu, kereta sudah tiba di pekalongan. Kami segera turun dari kereta. saudaraku
 sudah menuggu di stasiun. kami segera naik ke mobil pamanku untuk menuju rumah pamanku. sampai di rumah pamanku.aku segera ganti baju dan bermain, makan, salat jamak taqdim, bermain sebentar dan tidur.

aku sudah bangun dan aku makan, mandi, mainan sebentar dan menuggu azan magrib.
Azan magrib telah tiba aku segera salat jamak tagdim dan mainan. azan isyak kami segera makan malam,mainan,gosok gigi dan tidur.

Tiga hari kemudian,aku terbangun karena dibanguni sama ibuku. terus aku mandi, dan menunggu pamanku bangun. pamanku sudah bangun, terus berangkat naik mobil pamanku. sampai di stasiun aku segera turun dan pamit pamanku.



Sampai di stasiun kami segera turun, pamit pamanku dan segera masuk ke stasiun. dan menuggu di peron. keretanya sudah datang  kami segera menuju ke peron3 keretanya berhenti kami segera naik ke kereta. kereta sudah berangkat,aku segera makan dan menikmati pemandangan dan tidur. sampai di semarang kami segera turun dari kereta. kami segera beli roti o. keretanya sudah datang kami segera naik ke kereta ka kalijaga kereta sudah berangkat kami segera makan jajan, beli popmi sudah sampai solo kami segera turun dari kereta.

26 Maret 2017

Adhan dan Papa Ke Pekalongan

Aku tgl 14 maret 2017 ke pekalongan naik kereta. Berangkat pada pkl 05.15 dari stasiun Purwosari dan tiba jam 08.28 di stasiun poncol. 

Aku sama papa naik kereta dengan nomer 215 dan masuk stasiun poncol di jalur 1. Sebelah kanan ada kaligung dengan rangkaian kmp3 0 16 poncol.

Aku naik kaligung dengan tujuan pekalongan dan kereta itu berangkat pada pukul 08.54 dan berhenti di sta weleri dan tiba di sta tujuan kita kami turun dan kita naik ojek dari stasiun ke rumah simbah

05 September 2016

Ultah Tanpa Mas dan Mbak

Tiga hingga empat hari menjelang ulang tahunnya, dik Adhan sering berbicara mengingatkan. “Siapa ya yang sebentar lagi ulang tahun?” dengan mata berbinar. Tentu kami semua tertawa mendengarnya. Ah sepertinya dia menunggu moment ini dengan amat sangat. Kami kadang menimpali dengan berpura-pura lupa, “emang ada yang mau ultah?”.


Dia pun menjawab dengan bersungut-sungut. Sepertinya dia menunggu hari lahirnya dengan amat sangat. Di waktu lain kadang papa bertanya “memang pengen hadiah apa?” dia menjawab terserah yang mau memberi hadiah, masak diberitahu. Nah sayangnya pas tiba hari Sabtu tanggal adik berulang tahun kedua kakaknya punya kegiatan di sekolah.

Sehingga dia pun tidak merasa senang dengan hal itu. Sabtu pagi, kami mengucapkan selamat ulang tahun. Dan mama menyampaikan perkataan adik pagi hari. “Aku membayangkan ada kue dan lilin terus sama hadiah” ujarnya.

Ah, tentu tak tega untuk tidak membelikannya kue dan lilin untuk ditiupnya. Sesudah pulang sekolah, kue, lilin dan tak lupa kado ultah sudah siap diatas meja. Begitu papa pulang futsal disambutnya dengan mengajak meniup lilin serta membuka kado. Dia gembira bukan kepalang.

Hadiah mobil remote control yang diinginkannya terlihat waktu membuka kado. Dia kemudian mencobanya dan terlihat sangat gembira. Bahkan terik siang mau diterjangnya, namun papa meminta untuk bersabar bermain. Sebaiknya sore hari ketika matahari sudah condong ke barat. Benar saja, sore dan malam dia bermain mobil itu. Sejenak sepeda yang menemaninya dibiarkan tetap diteras.

Meski tanpa mas dan mbak, dia tetap ceria. Tapi dia tak sabar menunggu mbak Alma segera pulang karena ingin tahu apa kado yang bakal diberikan kakak perempuannya. Sayang, selamat ulang tahun. Lekas besar dan gapailah cita-citamu. Jadilah anak yang membahagiakan semua orang. Cita-citamu yang bisa bekerja dilingkungan kereta api semoga bisa terkabul.

15 Agustus 2016

Kemenangan Pertama Lomba 17an dik Adhan

Selama ini kebetulan tidak ada lomba. Tidak hanya karena tidak ada lomba yang digelar namun kebetulan pula tidak ada lawan yang sebanding. Ya, hingga tahun lalu dik Adhan merupakan anak terkecil dikampung sehingga kalau toh pun ada lomba ya tiada lawan.


Tahun ini, meski yang seusia tetap tidak ada setidaknya lomba tetap digelar. Lomba yang diikuti dik Adhan ada 2 yaitu makan krupuk dan balap kelereng.

Awalnya dia Nampak ceria melihat lomba orang tua yang memukul plastik air serta menendang bola sangat ekspressif. Dia turut bergembira meski orang tuanya tidak meraih juara. Maklumlah emang hanya untuk bersenang-senang. Kebetulan mama papa lebih sering dipasrahi urus lomba dan gelar malam tirakatan.

Waktu lomba makan kerupuk, namanya juga masih kecil sehingga mau menggigit saja susah. Kerupuk yang diikat di raffia bergerak kesana kemari diterpa hembusan angina. Panitia kemudian memperbolehkan peserta memegang tali pengikat kerupuk. Tentu lawan tangguhnya mas Abid karena sudah besar.

Sementara yang lainnya masih kecil seperti Hanan dan Hania jadi nothing tulus.
Papa tersenyum saja melihatnya melahap krupuk di gantungan di makannya. Lha wong mulutnya kecil begitu bagaimana bisa lahap dan cepat habis. Untungnya krupuk ga melempem jadi lumayan lancer.

Kemudian di lomba kedua, balap kelereng ini juga baru bagi dia. Lha menggigit sendok sambil jalan kan belum pernah dia lakuin. Sekali lagi lawan terberatnya mas Abid. Tapi anak itu ga gentar melihat lawan yang gede. Dia Cuma senyum-senyum tidak mempedulikan sekelilingnya. Dan begitu start dilakukan dia dengan yakin terus melaju.

Bener-bener mengejutkan kelereng di sendoknya meski bergerak tapi tidak jatuh. Sepertinya cara menggigitnya benar. Mas Abid yang tertinggal beberapa langkah menyadari tanpa ngebut bakal kalah.

Akhirnya dengan mengambil langkah panjang mampu menyentuh finish hampir bersamaan. Namun adik yang dinobatkan juara sebab begitu sampai finish kelereng yang ada di sendok mas Abid akhirnya jatuh. Wow si kecil memenangkannya. Selamat dan rasakan sensasi memenangkan pertarungan nak.

09 Agustus 2016

Saat 5 Hari Membuntuti Papa di Kantor

Ah mau bagaimana lagi kalau mama sedang keluar kota sementara mas Afin dan mbak Alma sekolahnya padat sampai sore, mau tidak mau adik bersama papa. Ya selama 7 hari mama keluar kota adik 4 hari ngikut papa dikantor.


Pulang sekolah pukul 12.45 adik dijemput papa di sekolahnya lantas pulang ganti baju dan makan siang. Kemudian ke kantor papa dan tidur siang disana. Alhamdulillah semua dilalui dengan baik. Papa sendiri kebetulan tidak punya acara diluar kota sehingga tanpa kesulitan antar jemput adik. Pas hari Senin saja adik dirumah sama mas Afin karena mas baru saja selesai acara kemah dari Boyolali.

Di kantor papa adik sempat tidur 3 kali saja karena yang hari Rabu dia kesulitan tertidur. Bahkan pas Kamis, meski sempat terlelap harus terbangun mendengar suara teman-teman papa yang ngobrol dengan suara lumayan keras. Papa yang melihat dari balik kaca tahu matanya berkedip-kedip menahan diri untuk tidak terjaga.

Nah pas tidak tidur siang baik hari Senin maupun Rabu, sorenya adik panas. Makanya papa meminta adik untuk tidur siang. Entah apa benar karena tidak tidur siang atau kelelahan sehingga badannya agak hangat.

Papa sendiri sempat akan pamit dan biar dik adhan istirahat dirumah. Namun pagi harinya kondisi sudah pulih. Hari Jum’at, adik melakukan Jum’atan di kantor papa kemudian siangnya makan soto kegemarannya. “Sudah lama ga makan soto disana. Itu lho yang dekat lampu bangjo terus jalan mau pulang itu pa” jawabnya saat ditanya soto mana.

Hari Sabtu, ditengah padatnya agenda papa adik tetap ikut. Sempat telat jemput karena harus mandi duluan namun adik tidak marah.

Kemudian ikut ke fajar indah dan tidur dengan nyenyak luamayan lama padahal kami mengobrol dengan suara lumayan keras. Sebenarnya bila kita menikmati kebersamaan dengan anak-anak sangat luar biasa. Mereka memberi hidup kita warna yang tidak monoton dan mencerahkan.

11 Juli 2016

Belajar Sepeda

Bertemu saudara sepupu cuma sebentar sebab Naya esok harinya sudah harus perjalanan ke Brebes. Jadi ga banyak yang diperbinjangkan oleh dik Adhan. Esoknya juga bingung mau bermain apa. Awalnya mainan sepeda roda 4 namun papa melihat bila nekad dinaiki akan berbahaya sebab 2 roda kecilnya tidak stabil sehingga mudah ambruk.


Papa coba membetulkan namun posisinya selalu tidak pas. Kalau tidak terlalu tinggi dan membahayakan, ya posisi standar yang membuat adik tidak belajar naik sepeda. Akhirnya papa memutuskan untuk dilepas. Melihat caranya berkendara, papa cukup optimis adik bisa diajari naik sepeda roda 2 secepatnya.

Dik Adhanpun dipanggil dan diminta naik. Awalnya mewanti-wanti untuk memegangi sepeda supaya dia tidak terjatuh. Setelah 2 kali PP, papa diam-diam melepasnya tanpa sepengetahuannya. Akhirnya adikpun bersepeda dengan nyaman. Kesulitan yang beberapa hari kemudian dihadapinya yakni awal menggenjot.

Berkali-kali dik Adhan tidak cukup yakin dengan awal kayuhannya. Bahkan sempat terjatuh ketika posisi sepeda miring hampir menyenggol mobil di garasi. Untungnya mental cukup bagus, dia bangun lagi dan belajar.

Begitu sampai rumah di Solo, papa langsung melepas dua roda kecil di sepeda dik Adhan. Meski masih sama seperti ketika memakai sepeda dik Naya, dik Adhan tidak putus asa. Mencoba, mencoba dan mencoba lagi tanpa pernah mudah menyerah. Semangat yang tidak terlihat seperti ketika kedua kakaknya belajar sepeda.

Proses belajarnya relative cepat bahkan cuma 2 hari saja sudah berani dilepas sendiri. Dulu seingat papa kedua kakaknya 4-5 hari baru dilepas bersepeda sendiri. Alhamdulillah, lancer bersepeda dengan baik dan tanpa hambatan. Kini setiap ada yang keluar rumah, dik Adhan ingin ikut dengan memakai sepeda sendiri. Asyik kayaknya kalau dik Adhan ikut bersepeda bersama di Car Free Day.

24 Juni 2016

Hasil Semester 2 Kelas I dik Adhan

Si kecil nan cuek ini akhirnya sampai juga di semester akhir. Papa sih merasakan dia makin cuek saja dengan sekolahnya. Yam au bagaimana lagi, sepertinya asyik juga ngeliat anak bebas. Ga dituntut banyak belajar ini dan itu. Belajar tiap hari juga sesampainya ajah dimana tidak harus lama.


Kami membayangkan bebannya tidak begitu ekstra besar. Menurut kami hasil hariannya sih lumayan meski tidak terlalu istimewa. Yang jelas kali ini kami tidak begitu merasa terforsir seperti sewaktu mendampingi kedua kakaknya. Demikian juga ketika adik belajar, kedua kakaknya juga turut mendampingi mengajari si kecil.

Sisi lain yang kami syukuri, kami berhasil menerapkan rasa bahwa mencontek dengan melihat atau bertanya pada temannya atau membuka buku saat tes itu hal yang tidak diperbolehkan. Dulu kami juga mengajari kedua kakaknya bahwa mencontek itu sama dengan mencuri. Kami tekankan jujur itu baik apapun hasilnya.

Bahkan kakak pertamanya sewaktu kelas VI SD sering mengeluh temannya yang ikut les gurunya hasil selalu baik. Kami tegaskan tidak apa-apa toh si kakak selama ini hasilnya juga baik. Pun yang mirip mbak Alma, setelah tes, siang hari ketika kami tanya bagaimana dengan hasil tes seringkali jawaab lupa atau “ya gitu”.

Artinya kami sulit mengukur apakah adik bisa mengerjakan, kesulitan atau bahkan tidak faham terhadap soal yang diberikan. Dalam mengajukan pertanyaan untuk mengingat juga dalam kondisi santai sebab bila sedang serius soal yang lain ya pertanyaan sering tidak digubris.

Di semester kedua ini adik lumayan hasilnya, berada di posisi 9. Beberapa pelajaran seperti PKN, Matematika, IPS, SBK dan PJOK nilainya masih 70 -79. Sementara Al Qur’an, Fiqih, Aqidah Akhlak mendapat nilai 90. Sisanya di angka 80an. Dari 23 anak se kelas dik Adhan ternyata ada 2 temannya yang tidak naik kelas.

09 Juni 2016

Latihan Puasa Pertama Dik Adhan

Inilah bulan puasa pertama saat dik Adhan sudah kelas 1 SD. Mama papa teringat beberapa tahun lalu ketika mas dan mbak Alma belajar berpuasa. Nampaknya dik Adhan cukup siap menghadapi bulan Ramadhan ini. Terbukti jauh-jauh hari sudah bilang soal lebaran. Hemmmm….


Malam hari waktu Tarawih pertama, si kecil dengan penuh semangat ngikutin kakaknya ke Masjid bahkan bersiap jauh sebelumnya. Sahur pertama, dibangunkan juga penuh semangat. Langsung bangun dan menghabiskan jatah sahurnya. Menunggu adzan subuh bahkan saat semua tidur setelah sholat subuh, dik Adhan bermain sendiri hingga pagi.

Tapi dia sempat lupa di hari pertama waktu puasa, sudah mau minum air putih eh kemudian teringat. Pada jam 10.00, sudah mulai merengek-rengek kelaparan dan minta maem. Oleh mama kemudian dihibur di kamar. Mama menuturkan beberapa hal supaya lupa. Yang agak mudah juga kedua kakaknya libur jadi ada hal yang membuat adik lupa masih berpuasa.

Sampai juga waktu Dhuhur, saat buka puasa. Hari pertama setelah buka ya boleh makan dan minum sepuasnya. Namun hari kedua papa minta puasa diteruskan. Meski keberatan, dik Adhan bersedia juga menjalani. Seperti kemarin, menjalani hari pertama puasa bersambung tidak mudah. Butuh ekstra kerja keras.

Siang hari tidak begitu terasa karena adik tidur namun setelah mandi sore, perut terasa lapar dan saat itulah rengekan-rengekan minta makan muncul. Bagi papa mama maklum dan membolehkan adik membatalkan sambungan puasanya, tapi Alhamdulillah, hal itu ditolaknya. Dia lebih suka bermain atau bercanda dengan 2 kakaknya. Hingga tak terasa, adzan maghrib berkumandang.

Pas hari pertama diminta masuk, pada Kamis 9 Juni, adik dibangunkan mama tidak mau alasannya masih mengantuk. Ya sudah mau bagaimana lagi, meski harusnya itu masuk sekolah adik membolos.

08 Mei 2016

Dik Adhan Berkereta Lagi ke Pekalongan

Awal Mei, ada 2 tanggal merah yang kebetulan hari Kamis dan Jum'at membuat papa merencanakan menengok simbah. Papa sempat menawari mas Afin, cuma kebetulan katanya ada rapat. Belum lagi tahu apakah Sabtu mas masuk apa libur. Dengan waktu libur cukup panjang bagi perkantoran, harus pesan tiket jauh hari. Kalau tidak, bisa tidak kebagian kursi.

Akhirnya diputuskan papa akan berangkat cuma berdua sama adik. Beneran kan, untuk tiket berangkat yang Kaligung tidak bisa langsung. Datang ke Poncol pukul 08.35 dan berangkat pukul 12.45. Mau bagaimana lagi, adik ga bakal mau naik bus. Lumayan lama banget dan antrian di depan pintu masuk cukup padat.


Papa dan adik menghabiskan waktu dengan bercanda dan ngobrol di depan stasiun. Untung tadi di Kalijaga adik tidur lumayan lama sehingga tidak rewel. Sudah begitu, masih bisa liat kereta bolak balik datang dan pergi. Sampai stasiun pekalongan waktu menunjukkan pukul 13.50 WIB. Kemudian kami menuju rumah mbah dengan ojek yang lebih praktis.

Dirumah mbah, baik mbah putri maupun mbah kakung kaget sebab kami sengaja tidak kasih tahu. Dik Naya sendiri sedang piknik ke Jogja sehingga otomatis dik Adhan mainan sendiri. Jum'at pagi dik Adhan diajak papa berdoa di makam mbah buyut Sahir.

Selama di Pekalongan, dik Adhan tidak rewel dan bisa mandiri. Sempat mainan sepeda, juga naik kereta kelinci cukup jauh sama dik Naya dan bulek. Kami yang menunggu cukup heran karena pergi lama. Akhirnya liburan usai, hari Sabtu kami kembali lagi ke Solo. Lagi-lagi perjalanan berkereta cukup menyenangkan bagi adik

29 April 2016

Ke Chimory, Pasar Bandungan serta Kids Fun Salatiga

Sudah jauh-jauh hari kantor papa berencana melakukan acara family gathering. Semua rencana awal akan ikut, sekolah ijin dulu karena family gathering 2 hari, Sabtu-Minggu. Cuma karena berbagai kendala, acara yang awalnya digelar Februari terus mundur hingga diselenggarakan 23 April. Dengan jadual itu, hanya mas Afin yang bisa.

Mbak Alma sendiri kebetulan pas jadual ujian praktek sekolah pada hari Senin. Otomatis, tidak bisa ikut. Tentu butuh istirahat hari minggunya. Sedang dik Adhan, Minggu diharuskan ikut Milad SD DJI bahkan teman2nya sudah mendaftar dulu. Mama ikut saja siapa yang harus ditemani.

Rencana perjalanan ke Chimory, kemudian ke penginapan. Paginya ke pasar Bandungan, terus ke Kids Fun Salatiga dan baru pulang. Meski acara itu menarik, anak-anak papa sudah punya rencana sendiri. Bahkan mas afin yg sudah confirm ikut tiba-tiba membatalkan sebab ada rapat Osis. Papa terancam berangkat sendirian.


Ya sudah mau bagaimana lagi, papa cukup cemberut karena acara yg sudah direncanakan lama bahkan berniat ajak semua. Berhubung terjadi perubahan, papa pasrah. Akibatnya mbak Alma bersedia ikut meski terpaksa. Mama yang melihat kondisi begitu memutuskan dik Adhan yang ikut bareng mama. Sebab kalau mbak Alma yang ikut, akan kurang istirahatnya.

Selama perjalanan mulai mampir Chimory, nginap di Bandungan, ke pasar bahkan ke Kids Fun, dik Adhan menikmati betul. Bersedia bermain dengan teman-teman yang baru dikenalnya. Tidak takut nimbrung atau ngobrol dengan teman-teman papa.

Pada Minggu pagi bahkan sempat naik kuda di dekat komplek penginapan. Hmmm berani juga naik kuda, santai dan tidak tegang ditunggangan. Padahal papa agak ragu-ragu. Bahkan kuda pertama yang dinaiki sempat menolah membawa papa dan dik Adhan. Akhrinya kami berganti kuda yang lain. Liburan yang lumayan menyenangkan.

24 Maret 2016

Menyenangkannya Outbond ke Banyu Sumilir Sleman

Pada hari Senin 21 Maret 2016, SD DJI kelas I dan II melakukan kegiatan out bond ke Banyu Sumilir Sleman. Mereka berombongan menumpang bus sewaan Raya yang berjumlah 5 buah. Berangkat pukul 07.30 dan dik Adhan masuk bus 2 duduk bersama Fadlan dan Vano. Di bus itu ada pak Bunyamin dan Bu Lukluk. Di bus tersebut kebetulan terdapat televisi yang selama perjalanan diputar film Mrico.

Adik merasa perjalanan cukup lama dan agak macet. Begitu sampai sana, begitu turun dari bus anak-anak diminta menaruh tas di ruang tas. Kemudian berkumpul di lapangan melakukan senam bersama sebagai bentuk pemanasan. Mereka diarahkan berbaris berjalan bersama melewti sawah dengan rintangan pohon yang jalanannya miring. Mereka melintasi kebun salak. Acara selanjutnya melintasi papan titian.

Adik melintasi papan titian dipegangi sama bu guru (namanya lupa). Adhan, rezel dan Fadlan melintasi sungai dan sandal rezel hilang satu. Mereka mencari bersama tapi tidak ketemu. Hingga waktu istirahatpun tiba. Adik masuk ke ruang tas mencari tas miliknya. Susah ditemukan. Akhirnya meminta tolong mama mencarikan dan kemudian bisa ditemukan tas miliknya.

Adik keluar dan mencari teman-temannya, yang sempat kebingungan. Mama pun menunjukkan temannya dimana. Anak-anak dikumpulkan kembali ke lapangan namun tiba-tiba petir menggelegar. Fadlan pun menagis dan mencari mamanya. Adhan dan Fadlan ketemu mamanya masing-masing. Mama melihat adik kelelahan dan menawari tidak mengikuti sessi selanjutnya. Adik mengangguk dan kemudian makan siang dengan disuapin.

Selain makan siang, juga makan sop. Begitu selesai, mereka bersiap pulang. Adik tidak masuk ke bus namun ikut mobil panther milik Alya. Di mobil itu ada Alya, Lala dan Aya. Selama di mobil dik Adhan tertidur padahal saat berangkat tetap terjaga.

Adik merasa senang bermain outbond bersama teman-temannya meski ada hal-hal yang membuat tidak nyaman. Misalnya dahinya terluka kena tali saat merangkak dibawah tali. Masih banyak melakukan aktifitas outbond dibantu oleh guru-gurunya. Apapun itu, semoga adik mendapat pengalaman yang menyenangkan.

11 Maret 2016

Memenangkan Ego Dalam Diri, Congrat My Little Boy

Sejatinya ikut lomba bagi anak-anak kami bukan melulu soal menang. Menang atau juara hanya bonus tambahan saja karena memang, membentuk mental sejak dini itu penting. Tidak mudah menguatkan mental afin, alma dan adhan sejak kecil. Menguatkan disini artinya ketika harus tampil didepan orang banyak. Secara pribadi tidak masalah, namun ketika diminta tampil, tidak mudah bagi anak-anak punya mental yang cukup berani.

Makanya bila ada kesempatan dan bisa diikuti, pasti mereka akan diikutkan. Apapun itu. Ini hanya untuk menguji mental mereka. Nah kebetulan kemarin bertepatan hari libur Nyepi, Perpustakaan Ganesa gelar lomba telling story bagi anak-anak. Nah peluang bagi adhan untuk ikut. Sepertinya menarik dan bagus untuk uji mentalnya.

Dirumah, kami minta mbak Alma melatihnya. Namun karena dilingkungan rumah sendiri ya agak sulit bedain ni anak udah siap beneran apa enggak. Maklum, ketiganya emang clingus, cukup pemalu kalau diatas panggung. Ya sudah kami dorong sebisanya. Hari H pun tiba. Rencana awal mbak Alma mau antar batal. Papa bersedia antar cuma belum kelar kerjaan, jadi berangkatnya diantar sama mas Afin. Tak lama kemudian papa nyusul ke Ganesa.

Rupanya peserta telling story maupun sinopsis sudah dikumpulkan oleh panitia. Di briefing secara perlahan. Lomba telling story memang diperuntukkan bagi anak kelas 1 dan 2, sedang sinopsis oleh anak kelas 3-4.

Terlihat si bungsi duduk di depan memperhatikan panitia dari rotary club yang sedang menjelaskan beberapa hal. Setelah itu, mereka dimasukkan ruang terpisah. Peserta telling story diminta maju 5 anak-5 anak untuk memilih sendiri bukunya. Mereka diberi kesempatan membaca setidaknya 20 menit. Beberapa kali bundanya Adhan nyamperin, ngajak mendalami cerita.

Ayahnya sih cuma kasih jempol 2 kalo si kecil nengok ke dirinya. "Apapun, hanya doa yg bisa ayah kirim. Semoga kamu bisa menceritakan apa yg kamu baca" batin si ayah.

Akhirnya waktu habis, dan anak2 dipersilahkan maju. Tidak berurutan namun siapa yang sudah siap terlebih dahulu. Ternyata tidak mudah, penampil 1-5 terlihat grogi, tidak lancar dan juri terpaksa menuntun dengan pertanyaan. Rupanya anak2 itu menganggap, telling story adalah menghapal. Makanya ada beberapa anak yang baru setengah menit lancar, langsung berhenti karena memang hapalan.

Ketika Adhan maju atas dorongan dirinya sendiri (dan ini luar biasa bagi kami), setidaknya mampu bertahan 2 menit menceritakan apa yang dibaca. Tidak sama persis dan beberapa tokoh maupun kejadian diingatnya dengan baik. Akhirnya juri turun tangan dengan berbagai pertanyaan yang lumayan bisa dijawab dengan benar.

Habis tampil, lega lah dia. Tak berapa lama, hasilnya kemudian diumumkan mulai dari urutan harapan 3. Lalu harapan 2 dan saat itu batin papa menyatakan ya sudah berarti memang tidak dapat nomor. Sebab sudah kebayang urut 1-3 dan harapan 1 yang prediksinya akan diraih yang lain. Apalagi diantara peserta itu sepertinya Adhan paling kecil tubuhnya.

Ternyata nama Ramadhan Aira disebut pada peringkat Harapan 1. Alhamdulillah. Wajahnya menampakkan kelegaan yang luar biasa. Beberapa kali jempolnya terangkat ke atas ketika melihat senyum ayahnya mengembang. Si ayah membalas dengan 2 jempolnya. Selamat nak, kamu tidak hanya menumbangkan rasa nervous dalam dirimu tapi juga meruntuhkan keraguan kami ayah bundamu.

Meski peserta hanya 20 anak, bagi kami inilah pencapaian luar biasa. Sebab kami tidak membayangkan dirimu akan begitu tegar didepan meski wajahnya menampakkan grogi yang luar biasa. Ah tapi itu wajar. Ada beragam ekspresi dari anak-anak lain. Bahkan ada yang menangis sebelum lomba dan tidak jadi ikut.

Apapun itu, kami bangga padamu, we proud of U

18 Desember 2015

Tes Pertama Bagi dik Adhan

Ini tahun pertama adik berada di kelas 1 dan memasuki semester pertama. Dik Adhan satu laki-laki diantara 2 anak di kelas yang paling kecil. Makanya memang sering merasa tidak pede. Hal itu terlihat ketika mulai memasuki sekolah, kelas dan bercanda sama teman-temannya. Untungnya tidak kelewat minder sehingga akan bertambah berat.

Awal menjalani mid, ketidakpedean adik menyebabkan dia selalu tanya teman sebangku soal jawaban. Hal ini dimaklumi mama karena pertama tidak tahu bahwa itu salah, kedua ketidakpedeannya itu. Nah sudah ada beberapa pesan yang disampaikan ke dik Adhan untuk menjawab soal sendiri.

Temannya yang bernama Fadlan tidak suka ditanya. Bahkan kalau mengerjakan satu tangannya menutupi jawaban. Jadi ga bakal bisa niru jawaban Fadlan. Mama memesan adik untuk percaya atas jawaban yang diyakini benar. Kedua kakaknya juga menasehati bahwa meminta jawaban itu tidak boleh. Mencontek itu juga sama dengan mencuri.

Makanya melewati hari-hari adik tes bikin tegangan lumayan tinggi dirumah. Habis maghrib, nemeni adik belajar. Papa sempat menemani belajar pada hari pertama tes sebab mama ada tugas luar kota. Papa menyimpulkan, materi terlalu berat dan tidak tepat buat anak SD kelas 1.

Makanya tidak lama belajarnya sebab mau dipaksa seperti apapun akan ada kesulitan yang dihadapi adik. Ya sudah, pasrah saja bagaimana nanti hasilnya. Adik sendiri tidak terlihat tegang namun biasa saja. Entah karena belum paham atau dia yakin atas apa yang dikuasainya. Setiap pulang sekolah bila ditanya menjawab "bisa" meski banyak soal yang ga diingat.


10 September 2015

Kado Ultah Adhan ke 6

Entahlah tiba-tiba si kecil ini minat banget sama yang namanya ulang tahun. Sejak papa dan mas Afin ultah semangatnya luar biasa. Namanya juga anak-anak, yang dinanti ada 2, tiup lilin dan buka kado. Sejak jauh-jauh hari sudah sering nanya "siapa ya yang tanggal 3 Sept ultah?" tentu kami semua tertawa.

Ulahnya yang tengil, suka manja-manjaan, ngelendot ke siapapun kecuali papanya. Nih yang kadang bikin sebel papa, pengen mengalami seperti jaman mas dan mbak kecil. Semua serba papa namun dik Adhan beda. Semuanya mama dan cenderung main sama kedua kakaknya. Tak jarang papa berulang kali bertanya.

"Dik, ntar kalau gede masih mau gojek sama papa?" kata papa
"Ya masih lah" jawabnya santai
"Nyenyes?" (bener) lanjut papa
"Iya, tapi ga janji ya" lanjut adik sambil tertawa

Perbincangan yang mungkin banyak terjadi di keluarga lain dan kami sungguh memaknai banyak hal dalam menjalani hari-hari bersama anak-anak. Kali ini, ultahnya pengen di beri kado kereta api, seperti hobinya. Cuma kata mama sebelumnya kan siidah diberi kereta jadi bentuk yang lain saja.

Mama membelikan kado buku kereta seperti yang dimaui dik Adhan sama sepatu. Wah cuma mbak Alma yang sering kasih kado, ngado apa ya dulu? Ah dirimu makin hari makin tambah besar. Inilah usia-usia kelucuan itu masih sering muncul hingga kelak kelas 4 nanti. Setelah itu secara perlahan papa akan kehilangan kelucuan itu.

Mama papa sayang pada kalian, anak-anak yang luar biasa. Met ultah ya si kecil dan semoga tumbuh menjadi anak sholeh dan menyenangkan sesama.


09 Agustus 2015

Adhan Njambak Afril


Wah diceritain kejadian adik menjambak temannya membuat papa kaget. Koq bisa ya? Padahal dia termasuk anak yang pendiam dan ga suka ribut sama orang lain. Rupanya yang dijambak memang teman yang sama-sama badannya kecil, namanya Afril. Sebenarnya Afril ini baik wong beberapa kali dik Adhan ditraktir. Papa saja sampai berpesan boleh ditraktir kalau hari sabtu saja.


Masalahnya iya kalau ortunya faham itu maunya Afril, lha kalau dipikir Adhan yang minta kan bahaya. Adhan sih bilangnya “Lha Afril yang ajak ayo tak beliin jajan, kamu maunya apa”? Gubrakz. Namanya saja anak kecil ya pasti mau.

Kembali ke soal awal, mereka pernah duduk bareng cuma akhirnya dipisah sama pak Bun. Karena banyak cerita dan tugas dari pak Bun ga selesai dikerjakan. Sepertinya sering telat menyelesaikan tugas ini membikin Afril bête sebab Adhan ga bisa diajak ke kantin beli jajan. Berucaplah Afril kalau Adhan suka telat dan selesai paling akhir.

Eh teman-temannya ada yang bela Adhan, ada juga yang dorong-dorong Afril. Entah apa yang dipikir Adhan pun menjambak Afril sehingga anak ini nangis. Afril sempat menarik baju Adhan tapi tidak memukul.

Dengan kejadian ini, kami semua bilang ke Adik untuk meminta maaf ke Afril. Sejak kecil memang anak-anak dididik untuk tidak berulah duluan. Tapi bila ada anak lain berulah ya harus dibalas. Tidak boleh dibiarkan. Akibat dari perbuatannya, papa tidak mau diajak bersepedaan sore hari. Adik terlihat merasa bersalah dan berjanji senin akan meminta maaf.

Ealah koq sempat-sempatnya dia berpikir menjambak yah. Sewaktu ditanya mencontoh siapa, jawab Adhan ga tahu. Hmmmm mungkin tindakan spontan karena teman-temannya provokatif juga.

06 Agustus 2015

Belajar Naik Sepeda



Alhamdulillah akhirnya dik Adhan mulai mau mengayuh sepeda. Dulu sewaktu masih TK, dia tidak bisa mengayuh. Cuma satu kaki yang digunakan nanti mundur kayuhannya dan ditekan lagi. Wah agak repot dan membuat papa berpikir bagaimana nanti dia bersepeda.

Setidaknya setelah awal sekolah habis lebaran, suatu sore papa ajak dik Adhan bersepeda. Dia mau lalu sepeda pun dikeluarkan. Papa jalan kaki dan adik mengayuh sepeda. Berdua menyusuri Mawar VI ke barat putar di Mawar III dan kembali lagi.

Esok sore, papa kembali ajak dik Adhan bersepeda.  Kali ini kea rah timur, yang lumayan sepi dan papa bisa nungguin adik bersepeda muter-muter. Papa mengarahkan adik ke belakang gudang rosok yang jalannya relative sepi dan dia bisa muter-muter. Papa tinggal duduk saja melihat dia bolak balik mengayuh sepeda kecilnya. Sudah lumayan bagus.

Hanya kalau disuruh ngebut, masih belum bisa sehingga kalau ada polisi tidur ada tanjakan kecil kerap harus didorong badannya. Beberapa kali Nampak berupaya mengayuh dengan keras tapi kakinya terlepas dari pedal. Memahami ‘minggir’ ketika ada kendaraan atau mobil lewat belum baik.

Ya biasa saja seperti juga kakak dia. Minggirnya itu masih sering ikut dimana orang tua berada belum yang penting minggir atau minggir ke sebelah kiri. Itu proses dan yang penting mulai mau belajar mengayuh. Sayangnya sepeda adik kekecilan.

23 Juli 2015

Adik Sakit Gigi



Riwayat sakit gigi di keluarga kami tidak begitu ada. Dulu pernah papa alami dan mas Afin namun masing-masing sekali. Jadi tidak relative khawatir ada yang terkena sakit gigi. Makananpun ya apa saja disantap sepanjang kami suka. Alhamdulilah sikat gigi anak-anak relative rajin sehingga makin tidak takut.

Pagi, sore dan jelang tidur menjadi kebiasaan sikat gigi mereka. MBak alma hingga saat ini belum merasakan sakit gigi. Wong gigi tanggal saja sudah TK atau bahkan SD, lumayan terawat dengan baik. Makanya awal ada gigi yang mau copot ribut dan bingung. Khawatir tidak tumbuh lagi ditambah yang mau tanggal merupakan gigi susu yang berada di depan.

Rupanya ditempat mbah jelang lebaran tiba-tiba adik merasa sakit gigi. Papa mama kaget karena selama ini giginya baik, rajin sikat gigi dan tidak pernah mengeluh soal gigi, Awalnya merengek biasa, “giginya sakit” namun makin lama makin sakit. Itu pas kita berada di rumah mbah Oh, dihibur dibelikan es krim.

Sakit mereda dan kami meneruskan perjalanan ke mbah Dun. Disana merengek bentar dan diam saja selama ditempat mbah Sri dan mbah Did. Malah sempat main di TK depan rumah mbah Sri.

Baru malam harinya berteriak-teriak kesakitan. Lantas mama membawa ke pak Mantri Birin dan ditemukan ada gigi berlobang disebelah kanan belakang. Diberi 2 sirup untuk diminum. Malam harinya rupanya kumat lagi, sirup tidak pengaruh. Mbah Ti mengusulkan memanggil mbah Mail, eh telpun yang ada salah. Karena masih nangis jam 22.00 dik Adhan diajak ke rumah mbah Mail tapi tutup.

Diketuk beberapa kali tidak ada yang bukain, ya sudah kami pulang. Dalam tidurnya, kadang nglilir merasa sakit, kasihan tapi mau bagaimana lagi. Hari berikutnya meski kadang merasa sakit namun tidak lama. Untuk sementara sikat gigi dilakukan mas, mbak atau mama.

Nanti kalau sudah sembuh baru adik sikat gigi sendiri lagi. Papa bilang setidaknya butuh 6 bulan untuk handle sikatan adik supaya makanan yang masuk ke gigi bisa dibersihkan dengan benar.

Template by:

Free Blog Templates