03 November 2011

Bangkit Mbak Alma!

Dengan raut muka kusut, mbak Alma membuka pintu rumah saat didrop mama. Tidak seperti biasanya langsung menyapa dik Adhan. Saat ditanya papa juga membisu seribu bahasa. "Ada apa mbak? dimarahi mama? kenapa? sakit?" tanya papa memberondong. Melepas sepatu dan tetap diam seribu kata.

Akhirnya mengaku juga bahwa hasil try out saat jeda semesteran membuat dirinya terlempar ke kelompok les B. Sejak kelas V ini, ada tambahan pelajaran hari Selasa - Kamis khusus untuk pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika. Dari 3 kelas, dipisahkan 4 kelompok tambahan pelajaran. Pemisahan itu tidak berdasar ranking seperti jaman mas Afin namun dari try out.

Memang tiap anak tidak bisa dituntut untuk sama. Dulu mas Afin awal tambahan pelajaran berada di posisi duapuluhan namun jelang kenaikan kelas bisa masuk 10 besar. Jadi pemeringkatan itu paralel untuk satu angkatan. Tentu tak mudah masuk 30 besar apalagi menjadi 10 besar. Anak-anak yang bisa konsisten saja yang bertahan.

Kalau tidak konsisten belajar bisa bolak-balik pindah ruang les. Bahkan untuk kelas D hanya melulu diisi latihan matematika penambahan, pengurangan, pengalian dan pembagian. Kembali ke cerita tadi, awalnya mbak Alma tidak akan cerita begitu tahu rata-ratanya tidak membanggakan bagi dirinya.

Namun rupanya hari itu mama menjemput dan masuk sekolah sehingga melihat pengumuman pembagian kelas. Mas Afin yang sedang persiapan lomba science juga membacanya. Mbak Alma memang down dengan hasil itu dan kami semua turut bersedih. Tapi mbak harus segera bangkit dan belajar yang rajin agar kembali ke kelas A. Buktinya saat UTS bisa 4 besar meski matematikanya ga karuan.

Begitu setelah diingatkan dan rajin belajar kembali, try out untuk matematika mendapat 80. Sayangnya untuk IPA dan Bahasa Indonesia kembali yang melorot. Try out sendiri diadakan mendadak sehingga memang membutuhkan kesiapan dan rutin atau tidaknya anak-anak belajar.

Kalau hanya sesekali pasti sulit menyesuaikan. Oleh karena itu papa mama kembali memberi semangat supaya mbak Alma mampu memperbaiki diri. Tidak hanya usaha namun doa juga mengiringi usaha. Semoga bulan depan (karena try out sebulan sekali) bisa kembali ke kelas A ya mbak. Yakin dan teruslah berusaha.....

Menuju TPA

Tahun ini rupanya menjadi titik kritis yang harus dihadapi bersama oleh anggota keluarga. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan supaya semuanya tetap baik-baik saja terutama mengenai kesehatan. Pergantian cuaca menandai kondisi yang tak menentu antara panas, mendung atau tiba-tiba hujan. Disisi lain, kegiatan sekolah dan bekerja cukup menyita waktu kami berlima sehingga harus diatur supaya tidak terguncang.

Pertama, paska belum dapatnya pengganti mbak ida jelas menguras energi seluruh penghuni rumah. Pekerjaan mama juga masih padat bahkan pernah menginap diluar kota sekali. Mas Afin jelang Ujian Nasional harus mempersiapkan diri baik mental maupun penguasaan materi. Tambahan jam pelajaran menjadi tuntutan mas Afin agar tidak ketinggalan. Papa mama yang awalnya keberatan akhirnya menyetujui.

Papa perlu sesekali mengerjakan sesuatu yang diorder oleh om Pai, terutama 3 bulan ini sehingga butuh waktu tersendiri. Mbak Alma meski hasil test masih bagus, rupanya try out yang mendadak menjadikan hasilnya kurang bagus. Dia terlempar dari jajaran 30 besar di kelas V dan masuk kelas B untuk les. Hal ini membuat kekecewaan mendalam bagi kami semua namun mbak Alma harus bangkit.

Papa mama mendorong agar mbak Alma kembali belajar serius.
Beberapa kondisi itu mengakibatkan dik Adhan harus segera menyesuaikan. Sebelum ada pilihan ideal yaitu mendapatkan pengasuh baru, akhirnya dik Adhan dititipkan di penitipan anak. Kami semua tidak menghendaki namun keputusan ini harus diambil agar kondisi tetap terjaga dengan baik.

Sejak hari kemaren dik Adhan "bersekolah" di TPA Balita Harapan Pajang. Disana ada 15an anak mulai 8 bl hingga 3 atau 4 tahun.
Hari pertama, merupakan hari penyesuaian. Pertama ditinggal udah jelas menangis namun ketika dijenguk mama pukul 09.30 rupanya mau maen bersama teman-temannya sambil teriak. Siang pukul 13.00 papa sudah menjemputnya dan waktu itu dia sedang berdiri di samping tempat tidur sambil menangis.

Dilihat dari raut mukanya, dia menangis karena lelah.
Berdasar info pengasuh, rupanya waktu tidur bersama pukul 10.00 dik Adhan tidak bisa tidur pulas. Hanya liar lier dan mudah terbangun bila ada suara-suara. Maklumlah dirumah sepi jadi bisa lebih nyenyak. Makan juga masih sedikit meski akhirnya diimbangi sama roti. Kata para pengasuh, dia sudah mulai mau jalan sendiri antar tempat tidur.

Ah syukurlah dia mau bolak-balik sendiri.
Beberapa anak jam segitu sudah ada yang dimandikan namun dik Adhan belum dimandikan. Masih siang betul itu. Papa pun membawanya pulang ke rumah dan berniat menyuapi karena tadi makannya sedikit. Eh masih nangis saja sehingga digendongnya dik Adhan dan tak sampai 5 menit langsung pulas. Nampaknya lelah dan rasa kantuk menyerang hebat sehingga bangun pukul 13.15 saat mbak Alma dan mama sudah dirumah.

Kita semua tidak tega dik Adhan dititipkan namun belum ada solusi yang tepat mengatasi semua ini. Apalagi seminggu ini mas Afin hari Senin, Rabu dan Jum'at pulang hingga pukul 18.00. Papa harus bolak balik antar jemput mbak Alma dan mas Afin. Yang utama perlu dijaga papa mama yakni kondisi kesehatan anak-anak kemudian kondisi psikologis mereka supaya kesulitan ini tidak mengganggu perkembangan mereka kelak.


Maafkan papa mama bila belum menjadi orang tua yang super baik. Masih ada banyak kekurangan meski kami terus berusaha. Doa dan kemengertian kalian adalah hadiah bagi papa mama dan semangat dalam bekerja. Semoga kedepan kita semua dapat menghadapi dengan lebih baik.

01 November 2011

Keep Spirit Fighting Mas

Sepuluh hari terakhir ini merupakan periode yang cukup berat bagi hari-hari mas Afin. Pasca ujian tengah semester yang hasilnya lumayan (meski ada satu mata pelajaran yang harus dipelajari lebih dalam) rupanya ada tugas baru disekolah. Alhasil, jam belajarnya menjadi bertambah padat sampai jam 17.50. Apalagi untuk 3 hari terakhir tanggal 31 Oktober, 2 dan 4 November.

Tiga hari itu mas Afin melalui hari-hari belajarnya hingga 11 jam (meski ada jeda istirahat yang jika ditotal ada 2 jam lah seperti istirahat, sholat dan makan). Makanya papa mama lumayan memberi perhatian pada 3 hari tersebut agar kondisi mas Afin tidak drop.
Kenapa waktu belajarnya bertambah? Sekolah pulang jam 13.30 sesuai jadual resminya.

Karena sudah kelas VI dan a
kan menghadapi ujian nasional, sekolah menerapkan kebijakan pendalaman materi dari jam 13.30 sampai jam 14.30. Kebijakan ini kebetulan diberlakukan juga untuk kelas V untuk hari Selasa-Kamis sehingga mbak Alma juga pulangnya sama.

SD DJI kebetulan akan ikut lomba science sabtu mendatang di TATV (TV lokal di Solo) dan Alhamdulillah mas Afin dipilih menjadi bagian tim yang terdiri dari 15 anak. Anak-anak itu diminta mendalami materi lomba dari pukul 14.30 hingga pukul 16.00. Tiga cowok dari VI B adalah mas Afin, Hasan dan Aldisha.


Sesuai permintaan mas, sejak 3 minggu lalu dia juga ikut les diluar tiap hari Senin, Rabu dan Jum'at pukul 16.00 hingga pukul 17.50. Tak aneh bila 3 hari seminggu ini mas sampai rumah setelah adzan maghrib. Tadi sepulang sekolah, terlihat kelelahan meski masih semangat bercerita.

Untuk menjaga kebugaran terutama menghadapi lomba, mama mensupport dengan berbagai hal seperti penyediaan makan siang, tambahan uang jajan ataupun meminta mas langsung istirahat setelah jadual pelajaran buat esok pagi. Sebab bila masih harus belajar lagi, takut malah menjadi beban atau tidak peak saat lomba.

Melengkapi itu semua, doa menjadi hal yang tak boleh terlupa. Agar kondisi yang ketat tidak menjadikan mas sakit. Agar mas tetap bugar, ceria dan inget beberapa materi pendalaman. Percuma kan kalau sudah melakukan banyak hal, eh hari pertandingan malah drop. Semoga hasilnya nanti sesuai harapan ya mas.... Amin....

Template by:

Free Blog Templates