09 Agustus 2012

Rute Harian Kita

Sebulan ini ada pergantian rute yang awalnya hanya Purbayan - Jongke ya maklum mas Afin sudah berpindah tempat menuntut ilmu. Jalur mama sudah Purbayan - Joho - Sambeng - Jongke - Purbayan. Sedangkan papa kadang sesuai kebutuhan. Kadang kala Purbayan - Jongke - Jegon - Sambeng - Purbayan atau Purbayan - Jongke - Sumber - Sambeng - Purbayan dan beberapa hari terakhir Purbayan - Jongke - Sambeng - Banyuanyar - Sambeng - Jongke - Purbayan.

Ini semua dilakukan demi melapangkan jalan berliku mas Afin dan mbak Alma merengkuh cita-cita. Kadang harus difikir secara jeli agar mas dan mbak bisa dijemput tepat waktu. Tidak hanya itu namun juga menyesuaikan dengan agenda papa mama. Pilihan tempat belajar itu menurut papa mama memang yang terbaik.

Yang menyediakan jalan lurus pada menggapai cita-cita, lebih tepat, lebih pas dan tentu sesuai kondisi. Meski sekarang untuk ke Sambeng agak jauh tapi tak apa. Pasti banyak pembelajaran yang akan dipetik. Dulu kala papa mama bersekolah di SD dengan jalan kaki bukan diantar. Yah memang jaman sudah berubah apalagi tinggal dipinggiran kota.

Saat SMP papa mama naik sepeda namun tidak begitu dengan mas dan mbak. Biarlah karena ini memang jalan yang dilewati dan ditempuh. Bila dianggap merepotkan tentu akan memberatkan. Lebih jauh, melintasi beberapa perempatan hingga persimpangan kereta. Agak was-was melepas mereka dengan sepedanya apalagi pulang sekolah ditengah terik matahari.

Pengen rasanya melihat mereka bersepeda sekalian melatih otot dan cadangan energinya. Tapi lalu lalang kendaraan sekarang membuat miris, was-was dan pikiran yang tak kunjung usai. Apalagi mas Afin dilarang membawa alat komunikasi. Pernah sekali mas harus naik angkutan umum dari sambeng. Sebelum menjalani, papa menunjukkan rute yang harus dilewati dan sukses.

Setidaknya ini menjadi bekal bila memang ada sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan. Juga membuat dia faham bahwa tidak selalu fasilitas itu tersedia. Bertemu, bersandingan dan bersama para penjual makanan, buruh, pegawai atau pengamen di bus antar kota. Nikmatilah perjalanan hidup kalian dan ambillah sisi positif itu yang kelak akan bermakna.

05 Agustus 2012

Shock Jelang Ultah Mas Afin Ke 12

Jelang usia ke 12 mas Afin, kami menerima kabar mengejutkan,

Papa mama berangkat menjemput mbak Alma dengan dik Adhan dan tinggallah bude dirumah sendirian. Kepergian kami tentu juga sekalian mencari kado ultah mas Afin. Begitu sampai rumah, bude tergopoh-gopoh bilang bahwa tadi ada telpon dari sekolah bahwa Afin kecelakaan, jatuh dari tangga. Kami diminta segera kerumah sakit.

Tanpa pikir panjang mbak Alma dan dik Adhan kami turunkan sembari berpesan pada mbak Alma untuk mencari telpon sekolah mas. "Tolong di sms-in ke mama yah mbak" pesan mama. Lajulah motor papa mama menuju ke sekolah. Belum semenit ada telpon masuk, tentu kami pikir dari sekolah ternyata dari mbah. Karena dijalan dan sedang kalut, kami bilang bahwa nanti akan ditelp.

Pikiran papa dan mama bergejolak masing-masing. Beberapa hal yang sama dipikirkan adalah memori kecelakaan mas Afin saat di TK A yang menyebabkan lengan mas patah. Saat ini bulan puasa dan menjelang lebaran tentu biaya yang akan dikeluarkan akan lebih besar lagi. Belum beberapa perabot rumah yang sudah dipesan belum terbayar.

Mama juga sempat komplain kenapa papa memakai celana sobek, tentu tidak enak ke sekolah dengan celana seperti itu. Yang jelas tidak banyak diperbincangkan dijalan. Begitu sampai disekolah papa langsung membuka hp sementara mama masuk ke sekolahan. Ternyata ada sms dari pak Ari dan panggilan darinya. Ada salah satu guru menuju teras sekolah dan bilang "ga ada yang jatuh tapi koq ada yang bilang jatuh ya" kata guru itu pada yang lain.

Alhamdulillah, itu kata pertama yang terucap. Yang jelas papa langsung telpon ke rumah meminta bicara dengan bude memastikan apakah si penelpon menyebut nama sekolah mas Afin. Bude memastikan iya. Lantas apa hubungannya dengan pak Ari? Ternyata setelah menerima telpon, ditengah kebingungannya bude datang ke pak Ari menceritakan telpon tersebut.

Karuan pak Ari kaget dan berusaha menghubungi papa. Karena hp ada di tas ya tidak diangkat. Di Sekolah mama tidak mendapat kabar ada anak jatuh dari tangga. Mama meminta ijin memastikan kondisi mas Afin di kelas. Mas pun keluar dengan tatapan kaget.

"ada apa mah" tanyanya.
"Kamu tidak ada apa-apa kan? nggak jatuh" tanya mama penasaran
"nggak. eh koq mama tahu aku jatuh? tapi ga papa koq wong tadi lari-lari sama temen"jawabnya dengan tatapan tetap tak mengerti.
"Oh ya sudah" kata mama dan kemudian keluar ke sekolah.

Mama memastikan bahwa mas Afin tidak kenapa-kenapa. Namun pihak sekolah bilang kemaren juga ada kejadian seperti itu. Papa menjawab sms pak Ari bahwa tidak terjadi apa-apa. Pak Ari menelpon dan menjelaskan kejadian bude mendatanginya.

"Lha nelpon pak Iral ga diangkat ya aku langsung ke DJI eh dijawab tidak ada anak jatuh. Aku sadar bahwa Afin sudah lulus. terus aku ke Jongke, disana juga dipastikan tidak ada anak jatuh. Aku lupa bahwa Afin tidak sekolah disitu" cerita pak Ari.

Selang beberapa saat, mas Afin pun keluar karena bel sekolah berbunyi. Diluar dia masih menanyakan sebenarnya ada apa. Mama ceritakan soal telpon yang diterima bude. Dikelas, mas Afin juga sempat ditanya temannya apakah dia jatuh. Hal itu menambah rasa penasarannya. Kamipun kemudian pulang sembari menganalisa apa yang terjadi.

Dirumah, mbak Alma menambahi ceritanya dari penuturan bude. "Katanya mas jatuh dari tangga dan dibawa ke rumah sakit oleh bu Mul. Terus yang nelpon bilang disuruh mencatat no telpon rumah sakit. Tapi bude bilang dia tidak bisa nulis" disinilah papap mama tertawa. Rupanya cerita penipuan inipun terjadi pada kami. Untungnya bude ga bisa menulis sehingga pesan untuk mencatat no telp tak bisa dilakukannya.

Dari banyak cerita yang sudah kami dengar, biasanya pihak yang ditelpon akan menelpon no yang ditinggalkan. Kemudian si penerima telpon yang mengaku rumah sakit akan bilang si anak akan dioperasi serta meminta DP biaya operasi sebab bila tidak akan berbahaya bagi jiwa anak.

Entah dari mana si penipu mendapat nama dan no telpon rumah. Yang penting semuanya sehat dan kami tak tertipu. Semoga kejadian ini memberi pembelajaran bagi kita semua untuk tidak gegabah menghubungi pihak-pihak yang mengaku sedang menangani kerabat kita yang celaka. Sebaiknya kita cek bagaimana kondisi mereka. Benar-benar menguras emosi jelang ultah mas Afin ke 12.

Mari Berhitung Dik Adhan

Anugrah Ramadhan Aira, nama yang kami sematkan padanya benar-benar luar biasa. Pertumbuhan dirinya begitu pesat begitu menginjak usia 2 tahun. Tingkat ingatan atas apa yang diajarkan atau tak sengaja didengarkan cepat benar ditangkap dan ditirukannya. Tak heran apapun yang ditularkan secara cepat dimengerti dan ditirunya.

Akhir-akhir ini bundanya mengajari bahasa inggris untuk angka dan hewan. Eh mampu ditirukannya dengan cermat. Meski konsonan tak sama persis namun kami faham maksud dari ucapannya. Geli juga mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mungilnya. Menerjemahkan nama-nama hewan dalam bahasa Inggris juga pas.


Sebut saja dok (anjing), dak (bebek), ket (kucing), piss (ikan) atau bie (beruang). Kami terus menerus memintanya mengulang dan terbahak-bahak mendengarnya. Adhan pun akan ikut terpingkal bila melihat lawan bicara juga terkekeh.

Papa paling suka meminta dik adhan berhitung satu sampai sepuluh sebab kata-kata yang keluar laksana air ditengah gurun tandus. Simak penuturannya, "atu, ua, tida, memma, mima, yuyu, juju, memma, mimma, uyu" yang dilanjut dengan heyy... sembari bertepuk tangan. Tiap hari itu saja yang diulang Adhan dan papa selalu memintanya.

Dia juga sering mengajak bermain papa, mama, mas Afin atau mbak Alma. Tahu apa yang diucapkannya? "adik aem papa" atau "adik aem mama" dan itu yang mengajarkan mbak Alma. Nak tumbuhlah jadi diri sendiri, bermanfaatlah bagi orang lain, agama dan bangsa. Hancurkan kesombongan dunia dan pedulilah pada sesama.

Template by:

Free Blog Templates