16 Januari 2014

Akankah Pemalu Terus?

Anak-anak mama papa sangat ekspresif bila berada dirumah. Sayangnya bila diluar rumah sering tidak keluar sifat aslinya. Semuanya, Mas Afin, mbak Alma, dan dik Adhan pemalu tapi ga malu-maluin sih. Diluar itu tidak selalu di komunitas baru. Di komunitas yang relatif lama atau sering bertemu masih begitu. Biasanya hingga usia 6 sampai 8 tahun akan kelihatan diam. Nunggu beberapa saat baru mau keluar bicaranya.

Selain dirumah, ya dirumah mbah Klaten atau Pekalongan yang suaranya dapat didengar. Kalau di sekolah ditanyain gurunya ya begitu. Suaranya nyaris tidak terdengar. Apalagi pas PAUD, TK dan SD. Pun demikian sewaktu berkunjung kerumah saudaranya. Bila tak ada yang seusia, maka hanya ngendon saja di kursi atau ngelendot pada mama papa.

Jangankan bicara, mau ambil roti suguhan dan minum mereka sering nengok pada mama papa minta persetujuan. Cilakanya papa cukup keras mengajari sopan santun ini termasuk dirumah pakde atau om. Seringkali saudara seperti mbah atau pakde agak memaksa. Nanya juga harus terus-terusan soalnya njawab pertanyaan ya singkat.

Kalau dirumah wah lain lagi. Kadang disuruh diam atau anteng ya ga bisa. Ketiganya sama aja, kemriyek, ramai dan ketawa-ketawa. Tidak jarang ketika bercanda diminta papa pindah ke kamar, ke ruang tamu atau volume tv digedein sebab tak terdengar. Ah anak-anak yang manis dan luar biasa. Kelak kalian dewasa akan lebih riuh rendah suara menyambut kalian yang bermakna bagi masyarakat.


15 Januari 2014

Masih Belum Puas Liburan

Entah kenapa kali ini mas Afin dan mbak Alma belum puas menjalani liburan semesteran. Apa karena target ke Pendawa Water World tidak terlaksana atau memang belum puas beneran? Makanya ketika papa nawarin ke Tlatar atau Cokro Tulung langsung iya aja. Padahal maksud papa cuma mau cari ikan untuk ditaruh diselokan supaya ga ada jentik nyamuk.

Batalnya ke Pendawa berhubung tiket mahal serta agenda mama papa yang tidak klop. Mau ambil liburan koq tiket mahal. Pun rencana ke Sriwedari dibatalkan disebabkan wahana itu-itu saja, sudah pernah dan kurang menantang. Beberapa lokasi wisata terdekat yang memang belum pernah dijamah itu seperti Sangiran, Cokro, Prambanan, Waterland, Candi Sukuh serta lainnya.


Untuk Umbul Tlatar memang sudah pernah saat mas Afin maupun mbak Alma berada di Taman Kanak-Kanak. Tentu sudah lupa bagaimana rupa dan asyiknya. Hemmmhh hadangan lain ya musim hujan serta belum adanya keluwesan dompet, hi... hi... maaf ya nak. Ini bukan alasan yang dibuat-buat dan akan mama papa usahakan.

Maklum, berdasar pengalaman kecil mama papa memang minim berwisata. Lha waktu dulu emang jarang tempat wisata serta kemampuan mbah kalian yang terbatas. Beruntunglah kalian saat SD sudah sampai ke Ancol, naik pesawat dan menginap di hotel 2 hari. Membahagiakan kalian itu masuk rencana ketika mama papa menikah.

Yah apalagi kalian sudah menjadi anak-anak yang menyenangkan, membahagiakan dan mewarnai hari-hari mama papa begitu indahnya. Tugas dan kewajiban sudah ditunaikan sehingga giliran mama papa membahagiakan. Meski dekat, murah dan sederhana yang penting kalian bisa menikmati.

12 Januari 2014

Kerak Telor Pun Ada Di Sekaten

Entah tahun berapa terakhir kami berkunjung ke sekaten, waktu itu mas Afin dan mbak Alma masih kecil dan tidak banyak permainan yang disukai anak. Maklum kebanyakan permainan itu berjenis ketangkasan, agak berbau judi atau untuk remaja. Kalau untuk anak-anak ya semacam komedi putar. Pilihan lain ya pertunjukan dangdut.

Sungguh gelaran yang sentuhan budayanya cukup jauh dari maksud penyelenggaraan sebagai peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Tapi tak ada salahnya kami mencoba berkunjung kembali, siapa tahu ada perubahan. Apalagi dik Adhan sudah mulai besar. Siapa tahu ada permainan yang bisa dinikmati. Waktu kesana ternyata cukup banyak permainan baru.


Baik bagi balita maupun bagi anak-anak serta para remaja. Karuan saja dik Adhan langsung mau bermain memancing dan mandi bola. Dengan ditemani mbak Alma, dik Adhan cukup betah memancing apalagi mudah sekali mendapat ikan. Nah giliran mbak Alma pengen naik kapal ayun, mama papa tidak ada yang mau menemani. "serem" ujar papa.

Lain hari mas Afin ikut dan mengayun dalam kapal. Keduanya tak seperti penumpang lain yang lantang berteriak. Mas Afin senyum-senyum sedangkan mbak Alma kadang memejam mata dan tertunduk. "Hatiku ser-seran pah. Tapi lama kelamaan ya biasa" tutur mbak Alma setelah turun. Masih ada permainan lain namun mereka tidak tertarik seperti kereta kelinci, tong setan, kapal air dan lain sebagainya.

Jelang pulang mama membeli kerak telor yang harganya Rp 10.000 dengan menunggu agak lama. Maklum antri padahal ditempat lain sepi. Saat dirumah dikonsumsi sepertinya tidak ada yang cukup suka. Rasanya biasa saja.

Template by:

Free Blog Templates