05 Februari 2014

Namaku Bukan Si Kribo, Buku Baru Anugrah Rawiyah Salma

Alhamdulillah akhirnya setelah lama ditunggu, keluar juga buku Namaku bukan Si Kribo yang diterbitkan oleh Tiga Ananda Solo. Penerbit ini bukan penerbit baru melainkan penerbit mayor yang rutin menerbitkan buku teks pelajaran namun beberapa tahun belakangan turut menerbitkan karya anak-anak. Tiga Ananda berada di bawah payung PT Tiga Serangkai, jajaran penerbit besar untuk buku pelajaran.

Dan ini buku kedua mbak Alma yang diterbitkan oleh Tiga Ananda setelah Kumcer Hadiah Dari Papa. Buku ini patut dijadikan koleksi karena cerita-cerita didalamnya yang menarik, unik dan tidak banyak ditemui pada buku karya anak-anak lain.

Imajinasi yang dikembangkan, cerita yang dialirkan, tanda-tanda yang dimunculkan sering tidak seperti yang dibayangkan. Ada penuturan yang mengalir runtut, membikin senyum, mengagetkan atau penuh teka-teki. Tidak sedikit dalam beberapa penuturannya terselip kisah-kisah yang benar-benar dialami oleh mbak Alma. Entah keseharian dirumah, disekolah, bersama adiknya, bersama bundanya dan lainnya.

Ini merupakan Kumcer ketiganya atau buku ketujuh. Bertambahnya usia mbak Alma juga memperkaya alur, penuturan, problematika cerita dan lain sebagainya. Buku rutin yang dibacanya ya karya Enid Blyton tetapi sudah beberapa karya lain yang turut dibaca. Cerita tokoh yang dibaca sang kakak turut dilahapnya.

Tentu saja pengetahuan pada tokoh mempengaruhi karyanya sekarang. Tokoh-tokoh dunia menjadi peluru dan menambah penggambaran individu makin kaya. Maka dari itu segera miliki buku Namaku Bukan Si Kribo segera di toko buku terdekat.

04 Februari 2014

Akhirnya Ada Teman Bersepeda Ke Sekolah

Bersepeda ke sekolah bukan merupakan perkara mudah. Jalur yang dilalui sebelumnya di survei oleh papa supaya memenuhi syarat aman, dekat dan mudah. Syarat ini diterapkan agar mas Afin dan mbak Alma menikmati betul perjalanan baik pergi maupun pulang. Ada 4 alternatif jalur dengan sepeda yang ditempuh guna mencapai sekolah.

Pertama yakni tugu lilin, transito, Solo Square, Gremet dan Manahan. Kedua, tugu lilin, transito, pasar buah, Gremet dan Manahan. Jalur ketiga tugu lilin, transito, pasar buah, Purwosari, Brengosan dan Manahan. Serta keempat tugu lilin, Jongke, Purwosari, Brengosan dan Manahan. Dari keempat jalur itu, alternatif jalur 1 yang hambatannya minim. Relatif aman dan jaraknya terdekat dibandingkan lainnya.

Hambatan yang agak merepotkan yakni melompati double track jalur kereta api di transito Pajang. Lumayan berat juga angkat sepeda 2 kali. Itu paling memungkinkan dibandingkan 3 jalur lain yang lebih jauh dan tingkat keramaian untuk menyeberang agak riskan. Apalagi jalur keempat menyeberang Purwosari yang terdapat 4 lintasan kerawanan ketika berangkat.

Untungnya mas Afin dan mbak Alma bersedia melalui jalur 1. Tantangan lain selain keramaian yakni panas dan hujan. Entah berapa kali kayuhan harus dipelankan, berhenti untuk rehat, minum atau jajan karena kerongkongan kering maupun lelah. Belum lagi kalau hari olahraga, pramuka, les yang pulangnya sore hari. Masih mending saat hujan, enak dan adem.

Rupanya bersepeda ke sekolah menarik perhatian teman mbak Alma kelas VII C. Tadi pagi mereka janjian untuk bersama ke sekolah. Maka disepakatilah tempat janjian untuk bersepeda bersama ke sekolah. Lumayan jauh, 6 km mencapai sekolah. Tetapi itu semua demi masa depan dan cita-cita kalian.

30 Januari 2014

Afin, Alma dan Adhan Galakkan Bersepeda

Bersepeda itu banyak manfaatnya selain sekedar kegiatan refresing atau menyehatkan badan. Tidak mudah mendorong anak-anak jaman sekarang untuk hobi dan mau bersepeda. Padahal dengan makin majunya dunia, perkembangan otomotif serta beban lapisan ozon, kegiatan bersepeda itu seharusnya digalakkan. Sayangnya tidak banyak orang berpikir tentang hal ini.

Menyadarkan manusia untuk berpikir kedepan jelas bukan pekerjaan mudah. Mama papa mencoba merayu mas dan mbak dengan analogi sederhana saja. Kami, bukan orang dengan tubuh tinggi besar dan kata sebagian orang keturunannya pun terpengaruh. Maka harus ada usaha agar anak-anak tumbuh lebih besar dari orang tuanya.


Akhirnya mereka bersedia bersepeda secara rutin ke sekolah. Manfaat yang dipetik tidak hanya bagi mereka namun bagi orang lain maupun lingkungan. Tetangga lumayan banyak bertanya dan menyayangkan atas ketegaan kami. Namun kami jelaskan manfaat yang bakal mereka petik termasuk beretika dijalan. Bagaimana kita memahami atau beretika pada pengguna jalan lain bila kita tidak pernah bersepeda?

Ada kalanya kami bersepeda di Car Free Day hari minggu atau hari libur. Atau mas Afin dan mbak Alma berkeliling kampung tak lupa dik Adhan ingin mengikutinya. Pernah suatu ketika dik Adhan bilang "Ma, besok dik Adhan mau anter mbak Alma ke sekolah ya? Pake sepeda" seru si kecil. Mama menyahut sembari tersenyum "memang tahu sekolahnya mbak Alma?"

"Ya tahulah. Belok kanan belok kisi tyus lewat yil itu lho" ucapnya sok tahu. Kami semua yang mendengarkan tersenyum. Semoga kelak besar nanti kau ikuti bersepeda ke sekolah seperti kakakmu yah.

Template by:

Free Blog Templates