28 Desember 2010

Kalian Bisa!

Sekolah merupakan dasar yang cukup penting untuk bekal masa depan dan setiap manusia di Indonesia akan melewatinya. Mas Afin dan mbak Alma juga melewati masa-masa sekolah dengan cukup antusias. Mereka bergembira ketika masuk sekolah atau kadang ya males-malesan sehingga akhirnya mbolos. Prestasi di sekolah juga lumayan menurut kami, papa mamanya. Hanya saja memang masih angin-anginan yang kadang naik atau turun. Jika masih giat, mereka akan belajar tanpa disuruh-suruh bahkan mulai pulang sekolah hingga akan terlelap ditengah malam.

Atau malah sebaliknya, cuma bentar buka buku pelajaran, baca dan sudah. Entah masuk atau tidak tapi kami mempercayai kalian telah belajar. Metode untuk tidak banyak menghafal namun memahami soal, cukup dapat ditransfer dari kami untuk mas dan mbak. Karena menghafal meski juga penting namun sering tidak berhasil untuk memahami esensi pelajaran. Kecuali untuk pelajaran sejarah. Mereka berdua sama-sama tertarik bila belajar tentang pemahaman. Kadang sampai papa mama susah menjawabnya.

Eksplorasi atas pengetahuan tidak dibatasi hanya pelajaran sekolah namun membaca kehidupan sehari-hari cukup penting. Kami memang memasukkan acara "tolong", "andai aku menjadi", "mrico" hingga "upin ipin" sebagai mata pelajaran sampingan. Kenapa? karena berbagai acara tersebut mampu menyampaikan pesan yang cukup jelas dan mudah ditangkap oleh otak, pikiran bahkan hati mereka. Memberi pelajaran jiwa bagi mas dan mbak alma juga tidak boleh dikesampingkan agar tak tumbuh jadi manusia egois.

Pelajaran sekolah sendiri pada masa sekarang tidak semudah saat kami kecil. Mengajari bahkan memahamkan makna atas berbagai pelajaran menjadi misi yang tetap harus disampaikan supaya esensi dari pengertian dan pengetahuan yang diterima tidak kosong. Meski awalnya cukup tertatih-tatih, alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa menyesuaikan. Tolok ukur untuk penerimaan pelajaran ya dengan hasil tes. Alhamdulillah selama bersekolah hingga sekarang ini masih bisa mencapai standar.

Yang juga ikut didorong adalah bagaimana mempertahankannya. Tidak mudah disalip atau bahkan harus faham atas ilmu yang disampaikan oleh guru mereka. Selama ini rata-rata nilai semester bisa mencapai 80 keatas meski sesekali mas Afin menyentuh angka rata-rata 70. Artinya dia bisa menangkap pelajaran. Dia dihimpit oleh teman-temannya yang les pelajaran diluar maupun pada guru mereka. Tak jarang keluar kata-kata yang menjelaskan bahwa temannya banyak yang mendapat kunci jawaban dari sang guru.

Kami harus mensupportnya dengan tidak mencontek apalagi ikut mendapat kunci jawaban tersebut. Supaya mereka memiliki rasa percaya diri dan keyakinan bahwa pengetahuan mereka telah cukup untuk mengerjakan soal. Yang agak mengecewakan hasil test mata pelajaran matematika mas Afin untuk test semesteran I kelas lima. Nilai dibawah 50 telah memukul telak kami semua dan juga mas Afin. Setelah kami cek, memang ada beberapa soal yang harusnya benar namun disalahkan.

Beruntung ulangan harian maupun tengah semester I mampu mendongkrak nilai di raport. Ini harus dibenahi agar pada semester kedua hasilnya bisa lebih optimal. Mas Afin mendapat nilai total 1909 atau rata-rata 86,77 untuk raport kelas V semester I. Dengan nilai itu, mas Afin berada di posisi 11. Hasil matematikanya lumayan drop sehingga sulit mengatrol pelajaran lainnya. Sedangkan total nilai agama bila dibandingkan dengan teman yang lain berada di posisi kedua dan hanya terpaut satu point dengan temannya yang mendapat jumlah terbanyak pada mata pelajaran agama.

Rata-rata 86,77 lebih rendah dibandingkan hasil test tengah semester namun hampir sama dengan ujian semester II kelas IV. Dengan melihat posisi ranking 11, berarti teman-teman mas Afin mendapat nilai jauh lebih baik. Tapi tak apa, papa mama masih yakin kalau mas Afin akan memperbaiki itu semua pada semester kedua. Ini menjadi modal penting pada persiapan psikis mas Afin di tahun depan yakni kelas VI. Karena pada saat kelas VI, mas akan menempuh ujian nasional dengan standar nilai 60. Tidak mudah namun kami yakin mas Afin bisa melewatinya. Mas Afin harus tetap yakin.

Sementara itu, hasil semesteran mbak Alma untuk kelas IV semester I nilai totalnya mencapai 1680 point atau rata-rata nilainya 84 (terpaut 0,9 dari hasil semester II kelas III). Dengan jumlah segitu, mbak Alma menempati posisi ke 10 dikelasnya. Dibandingkan ujian tengah semester kemarin hasilnya lebih bagus 2 poin. Tetapi justru rankingnya lebih rendah. Ini juga menandakan bahwa teman-teman mbak alma belajar jauh lebih keras sehingga meski rata-ratanya hampir sama namun posisi peringkatnya turun dari posisi 7 ke posisi 10.

Maka dari itu semua anakku, belajarlah yang rajin agar kedepan hasilnya bisa lebih optimal dan sesuai kapasitas otakmu. Papa mama hanya bisa mendoakan agar kedepan nilai raport bagus serta perilaku kalian sama dengan nilai yang didapat. Tidak mudah namun dengan bekerja keras kalian akan mampu mewujudkannya. Wong mas dan mbak juga bisa membuktikan, dulu pernah meraih posisi ke 2. Bagi papa mama, landasan nilai bagus itu harus didapat dengan jujur dan tak boleh curang. Yakinlah nak, kalian bisa....

21 Desember 2010

Saat tak ada mama

Tanggal 13-17 lalu mama harus kerja keluar pulau dan tak tanggung-tanggung jauhnya. Kemana? ke Menado. Mas Afin dan mbak Alma protes karena mama akan pergi jauh untuk waktu yang cukup lama. Awalnya papa merasa yakin akan baik-baik saja mendampingi 3 anak dan seperti biasanya yang akan berjalan normal. Hanya memang soal dik Adhan yang membuat papa dan mama yang cukup ketar-ketir melewati hari-hari. Apalagi bila malam tiba. Selama ini tak pernah mama tak disampingnya ketika matahari terbenam. Namun karena tak kuasa menghindarinya ya apa boleh buat, harus dihadapi. Malam pertama sebenarnya cukup melegakan karena rewelnya si kecil mampu ditangani sm yg momong.

Mas Afin dan mbak Alma banyak membantu nungguin adek kalau papa atau mbak Ida lagi repot. Dua hari sebelumnya kebetulan dek Adhan memang sudah pilek dan pada saat mama tinggal melernya terus tak berhenti. Kasian juga sebenarnya. Apalagi kalau dimandikan, tanpa alasan yang jelas terus saja menangis sembari berteriak. Agak ga enak karena kalau kedengar tetangga bisa dipikir menyiksanya. Dihadapi saja daripada tidak mandi sama sekali. Saat selasa malam, saat pakde menginap ditempat kita, mbak Alma batuk-batuk tak berhenti. Papa kelabakan luar biasa. Meski sudah coba diatasi dg diberi minyak, balsem atau kunir tetep saja batuknya tak henti.

Sekitar jam 02.00 batuk mulai terhenti entah karena obat alaminya manjur atau kelelahan terjaga, papa tak tahu pasti. Papa juga terlelap diterjang rasa lelah yang luar biasa. Rabu pagi, papa kaget dengan kondisi mas Afin yang mencapai panas tinggi. Kata yang momong, jam 3 dini hari sudah BAB mencret. Ketika diperiksa pakai tangan, luar biasa panasnya. Belum lama berselang, dia muntah-muntah. Kepanikan papa semakin bertambah karena dua malam lalu tetangga kami bercerita memang sedang musim muntaber.

Papa cari jalan dengan browsing penanganan muntaber di internet. Solusi jitu pake oralit. Sayangnya sang kakak agak males2an minum oralit. Awalnya bahkan dimuntahkan lagi. Mas Afin terlihat lesu dan lemas serta tak bergairah. Agak was-was melihat kondisinya. Sempat terpikir untuk dibawa ke dokter. Anak2 juga dilarang bercerita pada mama kalau kakaknya muntaber. Bukan apa-apa. Dengan tempat yang sangat tak terjangkau untuk mama, papa khawatir justru menambah kegelisahan yang amat sangat.

Pasca diberi oralit, BAB sdh berkurang meski hitungannya masih sering. Nafsu makan juga drop sehingga papa memaksa makan 3-4 suap sesering mungkin. Sudah tak terhitung berapa kali BAB dicelana atau tembus ke kasurnya adik. Saat mas Afin mengalami muntaber, batuk mbak Alma sudah berkurang banyak. Demikian juga pileknya dik Adhan. Begitu kamis sore mas Afin masih saja mencret (meski tak muntah lagi) rasa bimbang membawanya ke dokter muncul. Apalagi papa masih direpotkan memberesi rumah. Membenahi tembok maupun mengecat rumah. Itu papa lakukan agar ketika mama pulang bisa melihat rumah agak beda. Maklum, tanggal 16 merupakan hari lahir mama, ga ada salahnya beri kejutan tho?

Dengan memikirkan kondisi mas Afin, akhirnya diperiksa ke dokter dibawah gerimis hujan. Masih saja lemes dan tak berdaya. Papa was-was kalo pas ditempat praktek mau BAB. bisa malu nanti kalo bocor BABnya. Papa bercerita gejala dan kondisi terakhirnya pada ibu dokter. Dokter menyatakan ususnya terluka. Setelah diberi obat mas Afin pulang. Nyampe rumah mas Afin disuruh maem dan minum obat. Malam berjalan dengan tenang dan anak-anak tidur pulas. Kakak masih sesekali ke kamar mandi namun sudah jauh berkurang. Jum'at pagi kondisinya membaik dan cairan yang keluar sudah mulai mengeras.

Benar-benar satu minggu yang menegangkan bagi kami berempat tanpa mama. Berat dan sedih ketika mama jauh. Dik Adhan sering terbangun kalau malam, minta digendong keluar. Mas Afin tidak bisa meminta dibikinin soto, mbak Alma tidak bisa bercerita yang lucu-lucu atau bersama mama njagain dik Adhan. Kami memang terbiasa bersama menjalani, melewati dan melalui hari-demi hari dengan indah. "Ya Allah, tetaplah akan seperti ini selamanya" pinta kami semua, Aminnn.....

14 Desember 2010

Merindukan Mama

mama..... cepaat pulang yach.....
aku dah kangen banget.... apalagi adik.... katanya, dik Adhan kemarin pas tidur bangun, terus…. Nyari Mama dan selalu mengatakan “ mama….mama…” aku sangat sedih mendengar tangisan adik seperti itu.

Sebenarnya sebelum Mama berangkat, aku menulis pesan untuk beliau…. setelah di Manado barulah Mama mengetahui, ia menelponku lewat HP Papa ternyata ia terharu karna membaca pesanku.

Aku sedih saat Mama pergi, saat di sekolah aku hanya diam, menyendiri….. untungnya tidak ada yang menanyaku. tapi di rumah aku lumayan ceria, kesedihanku berkurang sekarang, tapi…aku sedih lagi saat menerima hasil Test-ku… ternyata ada yang 70….. tapi, aku berusaha menghilangkan kesedihan ku dengan menyendiri…. tapi, aku tak bisa karna saat makan sendiri, papa menghampiriku, ia menenangkanku. tapi… akhirnya kesedihanku hilang juga…..
Mama…… aku akan selalu mendoakan engkau… biar siang ataupun malam, semoga kau baik-baik saja disana…. jangan lupa banyak makan…. maaf, karna aku t’lah membuatmu terharu jangan pernah lupakan kami… tapi, engkau juga jangan terlalu memikirkan kami….
Maaf, selama ini aku telah menyusahkan engkau… tapi kau sabar dan selalu menasihatku agar tak berbuat demikian, dan tanpa ada amarah…..

dengan berjuang tanpa kenal lelah, kau berhasil memenuhi kebutuhan kami…. sekarang,aku tahu bagaimana pengalaman menjadi seperti engkau…. aku tak akan bisa menjadi sepertimu dan aku tak akan melupakan engkau…. terima kasih wahai Ibuku yang baik……

Puisi untukmu….

~Mama~
Mama……….
Kau selalu setia….
Mengurusi kami…..
Engkau berjuang tanpa lelah, dan tanpa pamrih…..
Hanya untuk kami…..
Engkau rela mengorbankan apapun….
Dan itu pasti hanya untuk kami…..
Engkau t’lah mengajari kami berbagai hal yang belum kami pahami….
Dan akhirnya….kami t’lah menjadi pandai sekarang…..
Jika aku kesulitan membuat PR engkau mengajariku….sampai bisa
Jika aku belum mengerti…engkau menjelaskannya lagi, tanpa mengeluarkan amarah…
Jika aku menangis….pasti engkau datang….
Hanya untuk menghiburku…..

Bila Makanan sudah habis…
Engkau Rela tidak makan…
Yang hanya kau pentingkan adalah ‘kami sudah mendapatnya’…..
Maafkan saya…karna selama ini saya t’lah menyusahkan engkau…
Tapi engkau menasihatiku dengan lembut….
Sekali lagi maafkanlah aku…Mama
Tolong…maafkanlah….

Ciptaan dari:Anugrah Rawiyah Salma
:IV A. Sekolah Dasar DJAMA ATUL ‘ICHWAN,surakarta

Template by:

Free Blog Templates