23 Juli 2015

Adik Sakit Gigi



Riwayat sakit gigi di keluarga kami tidak begitu ada. Dulu pernah papa alami dan mas Afin namun masing-masing sekali. Jadi tidak relative khawatir ada yang terkena sakit gigi. Makananpun ya apa saja disantap sepanjang kami suka. Alhamdulilah sikat gigi anak-anak relative rajin sehingga makin tidak takut.

Pagi, sore dan jelang tidur menjadi kebiasaan sikat gigi mereka. MBak alma hingga saat ini belum merasakan sakit gigi. Wong gigi tanggal saja sudah TK atau bahkan SD, lumayan terawat dengan baik. Makanya awal ada gigi yang mau copot ribut dan bingung. Khawatir tidak tumbuh lagi ditambah yang mau tanggal merupakan gigi susu yang berada di depan.

Rupanya ditempat mbah jelang lebaran tiba-tiba adik merasa sakit gigi. Papa mama kaget karena selama ini giginya baik, rajin sikat gigi dan tidak pernah mengeluh soal gigi, Awalnya merengek biasa, “giginya sakit” namun makin lama makin sakit. Itu pas kita berada di rumah mbah Oh, dihibur dibelikan es krim.

Sakit mereda dan kami meneruskan perjalanan ke mbah Dun. Disana merengek bentar dan diam saja selama ditempat mbah Sri dan mbah Did. Malah sempat main di TK depan rumah mbah Sri.

Baru malam harinya berteriak-teriak kesakitan. Lantas mama membawa ke pak Mantri Birin dan ditemukan ada gigi berlobang disebelah kanan belakang. Diberi 2 sirup untuk diminum. Malam harinya rupanya kumat lagi, sirup tidak pengaruh. Mbah Ti mengusulkan memanggil mbah Mail, eh telpun yang ada salah. Karena masih nangis jam 22.00 dik Adhan diajak ke rumah mbah Mail tapi tutup.

Diketuk beberapa kali tidak ada yang bukain, ya sudah kami pulang. Dalam tidurnya, kadang nglilir merasa sakit, kasihan tapi mau bagaimana lagi. Hari berikutnya meski kadang merasa sakit namun tidak lama. Untuk sementara sikat gigi dilakukan mas, mbak atau mama.

Nanti kalau sudah sembuh baru adik sikat gigi sendiri lagi. Papa bilang setidaknya butuh 6 bulan untuk handle sikatan adik supaya makanan yang masuk ke gigi bisa dibersihkan dengan benar.

19 Juli 2015

Berhalal Bi Halal Ke Slawi



Entah sudah berapa kali keluarga mbah Hirum berbarengan halal bi halal keluar kota berombongan. Kali ini kami semua akan halal bi halal ke Slawi Tegal. Lumayan jauh dan yang dikhawatirkan tentu mbak Alma yang mudah muntah atau gigi dik Adhan bisa kumat lagi. Dik Yoga berangkat dari Brebes dan kita ketemu di tempat pakde Heri yang punya hajat.

Wah mobilnya lumayan panas, kami berjanjian dengan rombongan keluarga lain dari mbah Hirum. Ada rombongan bude Anik, Om Uqi, pakde Hasbi, Bude Rini, Mbah Did, Bulek Ika, Bude Nunung, Pakde Maman, pakde Bilal ehmmm sapa yah lainnya.

Kami bertemu di Wiradesa dan beriringan ke Tegal. Di jalur Pemalang – Tegal terjadi musibah, ban mobil serep yang kami tumpangi terlepas menghantam mobil belakang. Terpental ke kanan jalan namun untungnya tidak mengenai mobil, roda dua, orang atau kaca rumah. Kami semua tidak ada yang sadar dan mbah Did yang tahu berhenti tepat di mobil yang jadi korban.

Untung mereka ga marah dan minta ganti rugi. Ban pun dicari pakde Iwan, ketemu dan diangkut menyusul kami yang berhenti di surodadi menunggu rombongan yang tertinggal dibelakang. Kejadian mengerikan tetapi Alhamdulillah tidak ada korban sama sekali.

Seperti biasa, acara dimulai dengan tahlil, sambutan dan salaman berkeliling. Ada beberapa keluarga yang datang belakangan. Ada yang karena nyasar, berangkat siang atau jalannya pelan.

Acara halal bi halal berjalan lancar, kami pun segera pulang sebab dirumah sudah ada keluarga Solo dan Yogya datang kerumah mbah untuk acara halal bi halal esok hari. Perjalanan pulang, mas Afin dan dik Adhan pindah ke mobil om Febi.

18 Juli 2015

Silaturrahim Ke Saudara



Salah satu tradisi lebaran yang patut dijaga yakni silaturrahmi ke rumah saudara. Berhubung saudara papah dim bah pekalongan cuma 1 yakni bulek Ucik, maka lebaran diisi silaturrahim ke rumah mbah adik atau kakaknya mbah Hirum. Wah keluarga mereka banyak dan untung lokasi ga begitu jauh. Jadi bisa berkunjung dalam sehari bisa kelar.

Susah sih menghafalnya, maklum wong ketemu cuma setahun sekali. Bisa jadi kelewat lupa. Nah kami berkunjung ke rumah saudara mbah setelah dhuhur. Sehabis makan siang. Sebelum siang, orang silih berganti datang ke rumah mbah, ya tetangga. Bersalaman, mengucap mohon maaf langsung pamit.

Lebaran 1436 H ini awalnya kami ke rumah mbah Fah. Ada bude Ida, pakde Bilal kemudian turut keluar Bude Rini. Setelah ngobrol, kami pamit dan menuju rumah Mbah Oh. Disana cucunya juga banyak, ada beberapa pakde sama bude juga.

Kemudian menuju rumah Mbah Makmuriah, ehmm simbahnya Amar. Tapi amarnya nggak ada, katanya berlebaran di Kendal. Setelah itu kami yang naik kendaraan ada 3 menuju ke kedungwuni. Sebuah pengalaman menyenangkan karena kami melewati jembatan darurat, harus antri. Sebutan disana jembatan sesek. Dik Adhan suka sekali melewati jembatan ini sebab suaranya seperti lewat di rel kereta.

Di tempat mbah Sri cuma ada om Arief, soalnya om Didiek tidur baru datang katanya. Sedang bulek Ika masih berlebaran di Salatiga. Kami melanjutkan perjalanan ke mbah Did. Beliau masih sendirian dirumahnya karena 2 anaknya yaitu Pakde Iwan dan Pakde Luluk baru besok datang.

Kami kemudian pulang dan kembali melewati jembatan sesek setelah antri. Agak ngeri-ngeri gimana gitu yah lewat jembatan itu.

Template by:

Free Blog Templates