25 Januari 2014

Akurasi Tendangan Mas Afin dan Dik Adhan

Main bola merupakan hobi yang dilakukan kebanyakan anak laki-laki. Termasuk juga mas Afin dan dik Adhan. Setiap hari kakinya pasti buat menendang bola. Ya wajar saja lha bola dirumah banyak banget. Yang didalam rumah saja ada 4 namun yang berwarna orange kempes. Akhirnya sisa 3 yang sering dimainkan mas Afin dan dik Adhan.

Dalam rumah yang sempit otomatis banyak korban barang akibat mainan itu. Mama papa ya hanya bisa menasehati secara perlahan, meminta tidak menendang keras. Namanya juga hobi, pigura, jam dinding, gelas, tempat CD dan barang lain bisa terkena. Ya mau gimana lagi. Lantas masih ada 2 bola plastik disamping rumah dan 2 bola lapangan besar.


Suatu ketika papa memasangkan bola diatas mainan kambing lalu dik Adhan diminta menendang. Rupanya tendangannya bisa tepat. Bahkan dari 5 kali mencoba, 2 kali berhasil. Dengan usia 4 tahun lebih 3 bulan, akurasinya lumayan. Kegembiraan ini kemudian disambut mas Afin dengan mencobanya. Dia berhasil mengenai bola 8 kali dari 12 tendangan.

Wah rupanya cukup jago juga mereka mengincar benda yang dituju. Sayangnya disekitar perumahan tidak ada lapangan yang bisa untuk arena bermain bagi mas Afin maupun dik Adhan. Sesekali saat sabtu libur mas diajak Futsal juga agak malas-malasan. Padahal maksud papa agar ketrampilan main bolanya tumbuh. Dia suka bermain bola dengan teman-temannya.

22 Januari 2014

Membaca, Kebutuhan Mereka Bertiga

Dilema yang terus menerus menghantui antara membiarkan mereka membaca buku atau menghentikannya. Sementara larangan membaca buku di hari sekolah agak mengendur terutama bila mbak alma harus memunggungi mama dan kepalanya diperiksa. Kalau tak membaca mbak Alma tidak mau. Lama sekali tuh mama memeriksa rambut.

Penasaran adik juga sama meski minat membacanya belum kelihatan. Setidaknya bisa ditangkap dari ketika mainan sendiri, bercerita dengan mbak Alma, mendengarkan cerita, menyimak upin ipin atau diceritakan dari buku. Keasyikannya sudah muncul diusia yang keempat padahal dulu kedua kakaknya masih mainan saja, hampir belum mengenal buku.


Rasa bimbang itu ada, ditambah kadang mereka berdua yakni Mas Afin dan mbak Alma sudah mencuri-curi waktu membaca buku papa. Memang itu tentang buku sejarah seseorang dan mereka memiliki rasa penasaran tinggi. Kelabakan menjawab tentang sejarah karena faktanya papa lemah disitu. "Coba tanya mama saja" jawaban yang sering terlontar kalau ditanya mas Afin dan mbak Alma.

Ah mau bagaimana lagi dibandingkan menjawab salah, menunda jawaban takut lupa atau mereka akan berpikir ayahnya tidak banyak tahu. Lagian mereka bisa sesegera mungkin mendapat jawaban dari bundanya. Mereka begitu haus pengetahuan dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun membaca sepertinya sebuah kebutuhan layaknya bernafas.

Mama papa harus membicarakan ulang bagaimana baiknya apakah akan diijinkan membaca dihari biasa dengan membatasi jam atau ketika tidak ada PR, membatasi membaca asal gantinya bermain dengan adik, membatasi membaca asal sudah sholat dan mandi atau? Entahlah, jawaban harus tepat supaya efek membaca berdampak positif.

20 Januari 2014

Berlibur Di OMAC Cokro Klaten

Pagi itu sebenarnya sempat cerah namun tak lama hingga mendung hadir dan sempat rintik-rintik hujan. Rencana ke OMAC otomatis dibatalkan apalagi papa punya jadual memperpanjang buku serta ke klithikan cari kabel jemuran. Begitu pukul 09.45, cuaca cerah dan mama mengajak tetap berangkat ke Klaten. Dik Adhan yang sudah mandi bahkan berpakaian pergi bolak-balik nanya "Ma, jadi pergi berenang?" tanyanya bolak balik.

Kami semua bersiap-siap dan meluncurlah ke Cokro. Sebetulnya papa tidak tahu persis tempatnya hanya tahu arah menuju kawasan pemancingan Janti. Akibatnya sempat kebingungan dan bertanya hingga 2 kali. Ditambah papan petunjuk tidak ada, otomatis pencarian kian sulit. Akhirnya lokasi ditemukan setelah menempuh kurang lebih 23 km.

Semua bermain air yang terasa betul kesegarannya. Dik Adhan ceria bukan main walau kadang ketakutan main perosotan. Papa yang agak males nyelup, diminta mama menemani dik Adhan bermain air. Takjub rasanya kami melihat jernihnya air disana walaupun di lokasi main air, agak jorok, kotor dan licin. Untuk tempat wisata sebenarnya murah tiket masuknya karena tak sampai Rp 10.000 perorang.

Dengan cuaca mendung, otomatis main-main air kami bisa puas. Setelah selesai kami mencari tempat pemancingan sekaligus makan siang. Ini masalahnya karena rumah makan itu layanannya buruk. Lokasi itu ada dipinggir jalan dan memudahkan kami mampir. Namun sejak pesan hingga makanan tersaji lebih dari 1 jam meski pengunjungnya sedikit dibanding luasan tempat makan.

Satu-satunya yang menjadi penghibur saat menunggu makan ya memancing. Apalagi sudah lama mas Afin dan mbak Alma tidak memancing. Ikan yang dipancing juga mudah menjadikan mereka makin antusias. Pas pulang, turun hujan dan agak lebat sehingga kami harus pelan-pelan. Sekitar pukul 15.00 kami sampai rumah dengan selamat.

Template by:

Free Blog Templates