01 Maret 2014

Rintihan Sakit Mas Afin Di Larut Malam

Saat kami akan merebahkan badan Jum'at malam, tiba-tiba mas Afin mengaduh kesakitan. Lantas mama papa temui dan dia mengeluhkan telinga kirinya sakit seperti ditekan. Papa meminta untuk tidur supaya tidak terasa. Namun tidak sampai 5 menit, mas menjerit lagi lebih keras dan terdengar tangisannya. Buru-buru mama papa menghampiri dan menanyakan yang terjadi.

Bertiga kemudian pindah ke depan tv, mama langsung cek via internet cara meredakan sakit. Kami langsung berpikiran kemungkinan kemasukan serangga. Beberapa menyarankan merendam telinga dengan air hangat agar serangga mati atau bergerak keluar. Dicoba beberapa kali, tak ada yang keluar dari telinga bahkan lebih merasa sakit bila tak direndam air. "Seperti ada yang bergerak di gendang telinga" ungkap mas Afin.

Makin larut dan lewat dinihari, upaya meredakan sakit tak kunjung berhasil. Mama bahkan meminta dibawa ke RS saja pukul 03.00 itu. Papa ingin pagi sekalian toh tak ada spesialis THT malam itu. Rintihan rasa sakit terus terdengar dan hampir tak tidur kami bertiga. Paling sesekali terlelap dan terbangun mendengar suara mas Afin. Pagi, papa membawa mas ke RS dan diperiksa oleh spesialis THT.

Dari indikasi awal sepertinya bukan disebabkan serangga. Amandel membesar, disertai pileg dan batuk. Dikter Edy meminta di rontgen supaya terlihat jelas penyebabnya. Rupanya penyebab telinga sakit karena melelehnya ingus ke gendang telinga akibat adanya sinus. Sinus disebabkan pilek terlalu lama dan tidak sembuh sehingga mengendap di rongga dalam hidung.

Lelehan itulah yang mengalir ke gendang telinga serta menyebabkan rasa sakit. Dokter menyarankan dibersihkan sekalian di operasi agar kasusnya tidak berulang. Berhubung jelang UTS, papa meminta obat sementara. Telinga mas sempat disedot cairannya dengan alat. Mama dan papa berpandangan amandel tidak diambil karena itu sistem kekebalan tubuh dan dibutuhkan second opinion untuk masalah ini.

17 Februari 2014

Bahu Membahu Singkirkan Debu

Pasca letusan gunung kelud, semua sudut rumah mulai atap/gendeng, teras, jendela, pojokan, kamar dan lainnya terasa kasar. Maklum, debu memenuhi semua ruang yang ada. Mama harus bolak balik menyapu. Mbak Alma membantu papa bersihkan genteng untuk mencegah air tidak tertampung ditalang karena dipenuhi pasir.

Mas Afin sempat drop kesehatannya sebab banyak menghirup abu sehingga batuk. Sudah diperiksakan ke Puskesmas dan diminta selalu memakai masker. Bapak-bapak lingkungan merencanakan kerja bakti agar debu tidak masuk selokan yang bisa berefek lebih berat.

Hari Sabtu, mbak Alma turut naik genteng mengangkut air, menyapu talang dan memasukkan pasir ke plastik. Sementara papa menyapu genteng. Mama dibawah tetap saja bersih-bersih. Dalam 1 minggu entah berapa kali mama nyuci motor. Maklum, beliau orang yang ga betah lihat kotor jadi bawaannya pegang sapu terus.

Minggu pagi, mas Afin turut membantu papa pada kerja bakti menyapu jalan. Semangatnya luar biasa walau batuk masih mendera. Rupanya ada menu makan siang yaitu makanan cepat saji dari kampung, tambah senang. Setelah dibersihkan, siang hujan deras dan otomatis semua pasir diatas genteng terbawa ke bawah. Cipratannya kemana-mana dan meninggalkan noda.

Lagi-lagi mama turun tangan. Pelataran samping tertutup pasir dan menjadikan batu putih bertambah kotor. Mama, mbak Alma dan papa kembali turun tangan menyingkirkan pasir dari atas batu disamping rumah. Entah masih butuh waktu berapa lama lingkungan bersih seperti semula.

15 Februari 2014

Abu Kelud Menghujani Solo, Sekolah Libur

Jum'at pagi Kota Solo mendapat limpahan abu dari letusan Gunung Kelud yang meletus semalam. Hingga jam berangkat sekolah, hujan abu masih saja terjadi. Mama kemudian mengambilkan masker untuk dipakai mas Afin dan mbak Alma agar terhindar dari abu. Juga disarankan makai jas hujan namun tidak diindahkan papa. Begitu sampai mulut perumahan, banyak warga menggunakan jas hujan sehingga papa putuskan memakai jas hujan.

Di jalan ternyata kondisi lebih parah. Debu dimana-mana dan masih terus turun. Mbak Alma dan mas Afin dipesan papa memejamkan mata agar tidak terasa pedih. Tak lupa papa meminta mbak Alma mengoperasikan kamera guna merekam apa yang terjadi di perjalanan. Begitu sampai sekolah, ternyata sekolah diliburkan.

Beberapa warga yang tak sabar sudah menyemprotkan air guna membersihkan halaman. Padahal hingga sampai rumah bahkan sekitar pukul 14.00 hujan abu tipis masih terjadi. Mataharipun tidak terlihat saking pekatnya abu yang turun. Ditambah tidak ada hujan sama sekali. Entah berapa kali mama harus menyapu dalam rumah. Maklum rumah terbuka, angin selalu berhembus.

Hingga malam hari, hujan belum turun. Mas Afin mendapat kabar bahwa esok Sabtu juga diliburkan. Papa yang kebetulan ada kerjaan dan mampir di SMPN 01 melihat pengumuman sekolah diliburkan pada sabtu. Cerialah mas Afin dan mbak Alma. Demikian pula dik Adhan yang harusnya masuk sekolah turut tidak masuk. Saat papa lewat didepan sekolah rupanya sekolahnya ya tutup.

Ini merupakan pengalaman pertama anak-anak tahu bagaimana hujan abu terjadi. Meski Gunung Kelud jauhnya lebih dari 100 KM, hembusan angin mampu membawa abu hingga Sukoharjo. Alhamdulillah berdasar pemberitaan tidak ada korban jiwa. Semoga kelak pengetahuan ini menjadi pengalaman berharga.

Template by:

Free Blog Templates