14 Juli 2016

Bertemu Yang Lama Tidak Ketemu

Kedua keluarga simbah baik yang di Klaten maupun di Pekalongan memiliki saudara yang lumayan banyak. Sepupu dari keluarga Klaten berada di banyak kota dan jumlah lebih banyak dari Pekalongan cuma memang saudara dari mbah Buyut. Ada yang memang dikenal mas, mbak dan dik Adhan, ada yang lupa namun juga ada yang susah ingat.


Lebaran tahun ini meski cukup banyak ditemui meski tidak semua. Namun ada yang 2-3 tahun baru ketemu. Di Klaten misalnya masih tetap ketemu mbak Salsa, mbak Reres, mas Kiky, mas Evan. Lainnya meski ada yang deket ternyata ga sempat ketemu seperti mbak Angel. Bagaimana mau ketemu kalau mbak Angel dirumah mbah Cuma 2 hari.

Di Pekalongan ada beberapa yang ketemu. Kalau sama dik Yoga dan dik Naya sudah pasti sementara dengan lainnya ada yang baru ketemu da nada yang ketemu lagi. Sama dik Kiky, dik Rara, mbak Dea dan lainnya memang hampir rutin bertemu.

Namun ada 2 orang yang bertemu setelah beberapa waktu ketemu. Mbak Nabilla dan dik Naflah bertemu dan ngobrol bareng dengan mbak Alma. Hmmm mereka ingat ga ya, dulu mereka sempat bercanda bareng, main bareng dan kesana kesini bersama. Entahlah dan kini sewaktu bertemu sama-sama sudah remaja.

Juga dengan anak om Ozan yang namanya saja lupa siapa itu. Mbak sempat ngobrol soal buku. Sementara mas Afin akhirnya ketemu Amar yang namanya diganti menjadi Aslam. Meski kelas di sekolah formal berbeda namun keakraban mereka sepertinya sama, mirip kayak kedua orang tuanya.

Seingat kami, 2 tahun lalu mereka ketemu dan tahun lalu mereka tidak bersua. Tinggi nya pun dulu sempat berjarak. Kini mereka sudah sama-sama menjadi remaja yang semakin terlihat 
kematangannya. Yah meski sekilas terlihat keduanya masih akrab dan semestinya ada waktu bagi mereka mengobrol lebih lama sehingga ada saling berbagi cerita.

11 Juli 2016

Belajar Sepeda

Bertemu saudara sepupu cuma sebentar sebab Naya esok harinya sudah harus perjalanan ke Brebes. Jadi ga banyak yang diperbinjangkan oleh dik Adhan. Esoknya juga bingung mau bermain apa. Awalnya mainan sepeda roda 4 namun papa melihat bila nekad dinaiki akan berbahaya sebab 2 roda kecilnya tidak stabil sehingga mudah ambruk.


Papa coba membetulkan namun posisinya selalu tidak pas. Kalau tidak terlalu tinggi dan membahayakan, ya posisi standar yang membuat adik tidak belajar naik sepeda. Akhirnya papa memutuskan untuk dilepas. Melihat caranya berkendara, papa cukup optimis adik bisa diajari naik sepeda roda 2 secepatnya.

Dik Adhanpun dipanggil dan diminta naik. Awalnya mewanti-wanti untuk memegangi sepeda supaya dia tidak terjatuh. Setelah 2 kali PP, papa diam-diam melepasnya tanpa sepengetahuannya. Akhirnya adikpun bersepeda dengan nyaman. Kesulitan yang beberapa hari kemudian dihadapinya yakni awal menggenjot.

Berkali-kali dik Adhan tidak cukup yakin dengan awal kayuhannya. Bahkan sempat terjatuh ketika posisi sepeda miring hampir menyenggol mobil di garasi. Untungnya mental cukup bagus, dia bangun lagi dan belajar.

Begitu sampai rumah di Solo, papa langsung melepas dua roda kecil di sepeda dik Adhan. Meski masih sama seperti ketika memakai sepeda dik Naya, dik Adhan tidak putus asa. Mencoba, mencoba dan mencoba lagi tanpa pernah mudah menyerah. Semangat yang tidak terlihat seperti ketika kedua kakaknya belajar sepeda.

Proses belajarnya relative cepat bahkan cuma 2 hari saja sudah berani dilepas sendiri. Dulu seingat papa kedua kakaknya 4-5 hari baru dilepas bersepeda sendiri. Alhamdulillah, lancer bersepeda dengan baik dan tanpa hambatan. Kini setiap ada yang keluar rumah, dik Adhan ingin ikut dengan memakai sepeda sendiri. Asyik kayaknya kalau dik Adhan ikut bersepeda bersama di Car Free Day.

09 Juli 2016

Idul Fitri 1437 H, Perjalanan Tak Henti

Lebaran bagi kami memang memiliki makna yang mendalam. Ini bukan hanya sekedar tradisi atau budaya keluarga yang tak bermakna. Melainkan anak-anak perlu memahami bahwa bermaaf-maafan itu memiliki arti yang tidak sederhana. Maka tiap lebaran kami pun pulang baik ke klaten maupun ke pekalongan.


Tempat dimana kakek dan nenek anak-anak kami berada, kami berkunjung dan melakukan sungkem. Walau sudah tahunan, membentuk pribadi anak-anak untuk selalu ingat mana nenek moyangnya dan harus apa tentu tidak mudah.

Melakukan perjalanan jauh saat lebaran butuh persiapan yang matang. Tidak bisa mendadak. Pesan tiket kami lakukan jauh-jauh hari. Beruntung pemerintah menyediakan kereta api sehingga memudahkan kami melakukan perjalanan. Yang paling senang tentu saja dik Adhan. Membayangkan melakukan perjalanan panjang dengan kereta tentu mengasyikkan.

Lebaran tahun ini kami tidak hanya sekali datang ke Klaten, maklum pakde Joko kebetulan bisa datang sehingga kami menyambutnya terlebih dahulu jauh hari. Kami hadir sebelum pakde Joko sampai ditempat mbah. Papa dan mas Afin datang tengah malam setelah bermain futsal. Kami mengobrol cukup banyak tentang keluarga.

Senin petang, kami kembali ke Solo sebab esok pagi setelah sahur kami harus menuju ke pekalongan. Hari Idul Fitri kami nikmati tidak hanya Sholat Ied, bersilaturrahmi maupun halal bi halal namun juga ikut menikmati makan bareng setelah sholat ied.

Hari Minggu pagi, kami pun kembali lagi ke Solo dan dilanjut langsung ke Klaten. Masih ada pakde Cilacap yang sedang menunggu kedatangan kami disana. Setelah lumayan berbincang, jelang maghrib kamipun pamit karena esok papa harus sudah berangkat kerja walaupun anak-anak masih libur. Selasa 2 hari kemudian, mama, mbak dan dik Adhan kembali lagi ke Klaten membantu mbah yang sedang punya acara.

Nak, beruntunglah kalian memiliki mbah yang rumahnya jauh. Kalian akan memaknai bahwa silaturahmi itu penting dan punya makna yang mendalam. Ini tidak sekedar soal jalan-jalan dan itu penting bagi hidup kalian. Salah satunya bila meminta maaf saja harus berkorban, kurangilah bersalah pada orang lain terutama orang tuamu.

Template by:

Free Blog Templates